Wednesday, December 26, 2007

On The Third Anniversary Of The Indian Ocean Tsunami, Habitat For Humanity’s Programs On Track To Provide 22,000 Families With Permanent Housing

Opportunity: Women from Chinnakottakuppam village,
near Pondicherry, India, making building
blocks out of clay using machinery and training provided by Habitat’s post-tsunami program

BANGKOK, December 21, 2007: Three years after the world’s attention was focused on the massive destruction caused by the deadly Indian Ocean tsunami, Habitat for Humanity continues to meet the challenges of rebuilding the homes, lives and communities of survivors and their families. Habitat for Humanity programs in India, Indonesia, Sri Lanka and Thailand are on course to ensuring that an estimated 19,000 families will have permanent, safe, secure housing by the end of 2008, rising to 22,000 by the middle of 2009 – at the expected completion of Habitat’s post-tsunami reconstruction response.

“Habitat for Humanity’s commitment to the reconstruction effort has deepened as the years have passed since that terrible day in December 2004,” said Jonathan Reckford, chief executive of Habitat for Humanity International. “Rebuilding viable communities takes planning, careful implementation and, most of all, time. We would like to thank our donors, volunteers and supporters from all over the world who continue to support our work in hundreds of communities even as the world’s headlines are taken up with new calamities.”

To date more than US$50,000,000 of donors’ funds have been spent, and millions more are earmarked for continuing projects and new programs. As of November 2007, Habitat and its partners had built, repaired, rehabilitated houses and provided other assistance for approximately 13,500 families. According to Rick Hathaway, vice-president for Habitat’s Asia-Pacific operations, “The tempo of our response has continued to be strong throughout 2007 as the capacity and expertise we have built in India, Indonesia, Sri Lanka and Thailand have begun to be fully felt.”

He emphasized that the cornerstone of Habitat’s response continued to be a community-based disaster response model which enlists the participation of affected families and leaders in the community in which they live. “Wherever possible, new homes are located within existing villages or neighborhoods, sometimes on the same, albeit strengthened, foundations of former dwellings. That is what people want. It avoids breaking up communities and prevents families drifting deep into poverty.” “Working together ensures that we find housing solutions that meet real needs, be it shelter, or construction-related training and employment opportunities or through disaster mitigation programs,” said Hathaway.

For families a safe, secure permanent home means the end of years of living in temporary accommodation, perhaps staying with relatives, or staying in dangerous or dilapidated parts of their old tsunami-damaged properties. The most complicated Habitat program is in Aceh, Indonesia, where the isolation and the extent of the damage wrought by the tsunami have added to the challenges of rebuilding. To date more than 5,000 families have been assisted has been served by the project. Habitat for Humanity’s approach and work, which also involves water-related projects, has been publicly praised by, among others, Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi, the government’s reconstruction agency. The two bodies are discussing collaborating directly in developing new sites. In India, Habitat for Humanity’s tsunami-reconstruction initiatives has helped more than 5,300 families with new homes and the rehabilitation and repairs of existing dwellings. And the pace of activity is increasing. Working from the main resource center in Chennai and technical offices in Madurai, Pondicherry and Vijayawada, Habitat and its partner organizations are building about 300 new homes each month, and repairing a further 80 other properties.

In addition a new disaster mitigation and preparedness program launched in November is expected to benefit 7,500 families living in coastal areas around Pondicherry. The program teaches families how to strengthen their homes and how to react in the face of threats from future flooding, landslides earthquakes and other disasters. In Sri Lanka, Habitat for Humanity is on course to build more homes than in 2006. More than 2,200 new homes have been built to date: an estimated 1,000 of them are expected to have been built by year’s end in spite of continuing security issues.

Habitat for Humanity Thailand has completed assisting more than 600 households affected by the tsunami in the provinces of Phuket, Phang-Nga, Ranong and Krabi. A Habitat resource center has assisted a further 400 families through employment opportunities, using alternative technologies to produce construction materials, and with housing microfinance services. The national organization has now established a regular Habitat program supported by the local authorities and partners to assist local families requiring safe, secure, affordable homes.

Habitat for Humanity uses its community engagement model in its response to natural disasters throughout the Asia-Pacific region. Habitat has recently responded to flooding and cyclones in Bangladesh, the tsunami-hit Solomon Islands, communities in Pakistan and Indonesia that were hit by earthquakes, as well as typhoon-affected parts of the Philippines.

Habitat for Humanity International

Sunday, December 16, 2007

Good Bye Babee...


Entahlah kenapa engkau satu-satunya lelaki yang menjadi "sahabat terbaik"
Kawan yang pertama ku ingat pertama kali ketika suka dan duka datang
Humph.... Kawan yang entah lah... bagaimana mengungkapkannya
Terimaksih buat pinjaman pundakmu ketika jiwa berada di titik nadir
Terimakasih buat pelukan hangat ketika airmata tak terbendung

Good Luck ya buat hidup dan Karir!

Thursday, December 13, 2007

Sunday, December 09, 2007

My Favorite Picture

Pict 1: Pict 2: Pict 3:

Tuesday, December 04, 2007

WORLD AIDS DAY 2007

"Stop AIDS, Tepati Janji"

Friday, November 23, 2007

Climate Change - Emergency On Earth

Take action for climate change. NOW!
You Control Climate Cnhange


TURN DOWN.SWITHCH OFF.RECYCLE.WALK.CHANGE

Tahukah anda?

1
Setiap tanggal 16 September, masyarakat Bumi memperingati hari ozon, namun penipisan lapisan ozon masih terus berlangsung. Dampak penipisan lapisan ozon antara lai
n meningkatnya intensitas sinar ultra violet yang mencapai permukaan Bumi dapat menyebabkan gangguan terhadap kesehatan, seperti kanker kulit, katarak, dan penurunan daya tahan tubuh, dan bahkan terjadinya mutasi genetik. Menipisnya lapisan ozon mengakibatkan terjadinya degradasi lingkungan, keterbatasan sumber air bersih, kerusakan rantai makanan di laut, musnahnya ekosistem terumbu karang dan sumber daya laut lainnya, menurunnya hasil produksi pertanian yang dapat mengganggu ketahanan pangan, dan bencana alam lainnya. Mata rantai dampak penipisan lapisan ozon berikutnya adalah terjadinya pemanasan global (global warming). Gas karbon dioksida (CO2) memiliki kontribusi paling besar sekitar 50 persen, diikuti chloroflourocarbon (CFC) 25 persen, gas methan 10 persen, dan sisanya gas lain terhadap pemanasan global.

Munculnya kembali penyakit mendunia seperti malaria dan TBC yang diakibatkan oleh pemanasan global. Nyamuk aedes aegypy sebagai vektor penyakit malaria dapat berpindah dan berkembang biak dari Afrika ke Eropa. Pemanasan global juga menyebabkan mencairnya lapisan es di Benua Antartika. Akibatnya, muka air laut global naik sampai 25 cm di akhir abad 20. Sehingga terjadi ketidakseimbangan iklim, dimana suatu tempat terjadi bencana kekeringan, dan ditempat lainnya terjadi bencana banjir. Kerugian dunia mencapai 300 milyar dollar AS per tahun akibat dampak perubahan iklim dan berkurangnya kemampuan hutan sebagai penjerap karbon (carbon sink) karena 65 juta hektar dari 3500 juta hektar hutan punah pada periode tahun 1990-1995. Ternyata mengurangi emisi gas rumah kaca saja tidak cukup akan tetapi kita hatus bekerja untuk menghapuskan emisi gas rumah kaca. Namun, ancaman bencana ini cenderung diabaikan. Kenyataan menunjukkan, jumlah pencemaran gas rumah kaca dari tahu ke tahun terus meningkat. Slah satu jenis gas rumah kaca, yakni CO2 emisinya terus meningkat dari tahun 1990 sebesar 1,34 milyar ton, dan pada tahun 1997 sebesar 1,47 milyar ton.

Sumber utama CO2 dari 30 negara maju saja, yang berpenduduk 20
persen dari penduduk dunia menyumbang dua pertiga emisi salah satu gas rumah kacatersebut. Sedangkan negara berkembang yang berpenduduk 80 persen dari penduduk dunia menyumbang sepertiga emisi CO2. Dari sektor transportasi di AS saja emisi CO2 lebih besar dari total emisi dunia di sektor tersebut. Sepanjang abad ke-20, terjadi 10 kasus tahun terpanas hanya dalam kurun waktu 15 tahun terakhir. Tahun 1998 tercatat sebagai tahun terpanas di abad ke-20, yang berdampak terjadinya kebakaran hutan di Indonesia, Brasil, Australia atau negara lainnya dan kemarau panjang yang emusnahkan panen seperti di Afrika, serta bencana iklim lainnya akibat fenomena EL-Nino.

Intergovernmental Panel On Climate Change (IPCC) memprediksi kenaikan temperatur mencapai 2,5 samapi 10,4 dearjat Celcius sampai periode seratus tahun mendatang dan mengindikasikan bahawa akan terjadinya kenaikan permukaan air laut setinggi 1 meter pada tahun 2008. Daerha yang rawan terhadap dampak ini terjadi di Asia Selatan, Asia Tenggara, sepanjang pantai selatan Mediterania, pantai barat Afrika, dan terumbu karang di Lautan Indonesia dan Pasifik. Lapisan ozon berfungsi melindungi bumi dari sinar ultra violet yang dipancarkan oleh matahari. Menipisnya lapisan ozon diketahui pada pertengahan tahun 1980-an. Penipisan lapisan ozon disebabkan oleh penggunaan bahan-bahan kimia sebagai bahan perusak lapisan ozon (ozone depliting substance) dan gas CO2 yang dapat berasal dari hasil proses pembakaran seperti dari kendaraan, pabrik, dan kebakaran hutan.

2

Kerusakan hutan di Indonesia mencapai 3,8 juta hektar setahun ini. Ini berarti semenit 7,2 hektar yang rusak. Jika masih terus terjadi dan tidak dihentikan, mak hutan dataran rendah di Sumatera akan habis pada tahun 2005. Juga dataran rendah di Kalimantan akan habis pada tahun 2010. Minyak pun, tidak akan bertahan dalam waktu 10 tahun. Selama 1985-1997, kerusakan hutan di Indonesia mencapai 22,46 juta hektar. Artinya, rata-rata mencapai 1,6 juta hektar per tahun. Ada empat faktor penyebab kerusakan hutan itu: penebangan yang berlebihan disertai pengawasan lapangan yang kurang, penebangan liar, kebakaran hutan dan alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian atau pemukiman.

3
Protokol Kyoto adalah sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global. Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran kar
bon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam perdangangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas0gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global. Jika sukse diberlakukan, Ptokol Kyoto diprediksi akan mengurani rata-rata cuaca global antara 0,02 derajat celcius dan 0,28 derajat celcius pada tahun 2050.

FLIP YOUR PERSPECTIVE
YOU CAN MAKE A DIFFERENCE

A BIG SALUT buat semua kawan-kawan yang berkerja keras sehingga ACARA EARTH CARE ini dapat terlaksana.



Office: Marine Building Kampus UNHAS Tamalanrea
Jl. Perintis Kemerdekaan KM. 10 Tamalanrea Makassar 90245
earthcare@telkom.net

Tuesday, November 20, 2007

Soppeng - Jene'ponto

Pict 1: Pict 2:

A Lot Of Story There...

Lama sekali rasanya tidak mengupdate blog ini dengan tulisan atau cerita... Lumayan banyak yang protes... Entah ya mungkin sudah tidak sabaran untuk mencela tulisan terbaru... hehe..

Ternyata menjadi pengangguran ya tidak langsung kehilangan kesibukan, ada saja hal-hal yang harus dikerjakan. Sedikit membantu tuk telepas dari beban menjadi pengangguran juga sih.. hehe.

Hal yang paling ingin dilakukan setelah lulus sarjana itu adalah berkumpul dengan kawan-kawan, hal yang sulit sekali direalisasikan waktu masih sibuk dengan kuliah. Ehm kawan seangkatan kuliah, KKN ataupun teman-teman jaman jebot di SMA dulu dan yang gak ketinggalan adalah keluarga besar Vy.. Alhamdulillah satu-satu mulai bisa direalisasikan...

Kelautan 2002 UNHAS


Terakhir kumpul-kumpul dengan kawan-kawan seangkatan ini lupa beberapa tahun yang lalu, lama sekali tidak berkumpul di dalam jumlah yang lumayan lengkap ini. Kalau kumpul-kumpul dalam skala kecil yaaa lumayan sering, kalau tidak makan siang bareng pasti ketemunya tiap minggu dipulau entah hanya sekedar having fun, diving, atau ngebantu research nya teman. Sekarang ehmm bahagia banget bisa kumpul skala besar dan makan malam bareng.
KKN UNHAS 71
Mesha_Nilam_Vy
Tidak dengan semua anggota posko Tunikamaseang sih, tapi ya cukup bisa melepaskan kangen. Awal niat ketemu itu mengembalikan buku dan kebetulan ada yang niat mentraktir... Asyik, melepas kangen dan kenyang pula. Lengkap!

SMANSA 2002

Bakso Minggus, menggiurkan memang ya!

Ehmm kawan-kawan baik vy di SMA ini yang luar biasa kangennya. Terakhir ketemu dan kumpul-kumpul ehmmmm sekitar 3 tahun yang lalu... lama banget.. Keterlaluan nih kawan-kawan nih.. hehe.. Gak ada yang banyak berubah sih, ya gitu-gitu aja. Tetap ajah rame kalau lagi kumpul! Then yang gak dilupakan adalah "MAKAN BAKSO MINGGUS" di SMANSA... he2...

Thursday, November 01, 2007

Saturday, October 27, 2007

www.irmaja.blogdrive.com


Thanks buat pace Rian ya buat postingannya ini... Ehmmm walaupun dibilang dikit narsis blognya but ga papa lah ya pace!!!! Viva Papua Pace!!!

Thursday, October 11, 2007

Minal Aidin Wal Faidzin!


Happy Birthday To Me !!! _^

Rabu, 10 0ktober 2007...

Salam hormat buat pagi hari
Lihatlah siang hari mulai merekah
Itulah kehidupan, kehidupan yang sesungguhnya
Dalam waktu yang singkat engkau akan menjumpai
berbagai macam hakikat keberadaanmu
yaitu nikmat pertumbuhan, karya yang mulia,
dan kesuksesan yang cemerlang


Karena hari kemarin tiada lain hanyalah mimpi
Hari esok tiada lain hanyalah fantasi
Tetapi hari yang kau jalani dengan seutuhnya
akan mengubah hari kemarin

menjadi mimpi yang indah
dan tiap hari esok akan menjadi penuh harapan
maka lihatlah dengan baik hari ini
Inilah salam hormat buat pagi hari


Pagi ini degup jantung seakan-akan berbicara kepadaku bahwa sesungguhnya hidup ini terdiri dari menit-menit dan detik-detik... Benar juga hingga membentuk sosokku kini... Uuuuuu perjalanan panjang hidup Vy telah sampai ke 23 tahun, rasa syukur luar biasa kepada sang khalik pemilik ruh ini...

Ehmm gak ada perayaan istimewa tahun ini, selain berkumpul bersama Ummi dan Abah di rumah (keluarga kecil bahagia...) memanjatkan doa untuk anak semata wayangnya ini semoga diberi kesuksesan dalam hidup... Amien! Kado ulang tahun dari Ummi dan Abah tahun ini ehmmm ciuman dan pelukan hangat sepanjang hari...

Tahun ini di usia 23 tahun (cukup tua... he2) Vy sebagai "orang" jauh lebih HEBAT! Tidak seperti tahun lalu yang masih dalam keterpurukan perasaan. Bodoh! Memang Bodoh! Sekarang jauh lebih hebat karena tidak perlu lagi meneteskan air mata! Tak perlu lagi merasa sakit karena jatuh di lubang besar kehidupan! Semua jadi wajar-wajar saja...

Dan yang teristimewa Vy "sudah" dikelilingi orang-orang tercinta! Orang yang tepat berada di posisinya masing-masing! He2.... For one person that always be my inspiration... >>><<< Ehmmm selalu ada keajaiban-keajaiban hidup bukan? Itu juga yang Vy harapkan di 23 tahun ini. Terimakasih buat curahan kasih dan simpatinya di hari ini baik lewat sms, telfon, message di fs, comments di fs, dan email...

*********************************

From: sujadi
Date: 09 Oktober 2007
Subject: di titik nol
Message: di titik nol.................

Dititik ini berbaliklah meneropong jalan yang baru kaulalui. kautak bisa kembali lagi karena saat lalu itu cuman datang sekali. titik ini ternyata telah menjadi pemisah dirimu disaat ini dan disaat kemarin,dan sekarang kau hanya bisa menoleh mengangkat tangan memberikan lambaian pisah "selamat tinggal". jangan lupa untuk kau ucapkan kata yang walaupun terdengar amat biasa, namun hari ini keluar dari lubuk hatiku yang paling dalam; "Terima kasih".

Yakinlah sebuah lirik lagu akan didengungkan dalam berbagai bahasa yang berbeda dengan makna yang sama."kini tibalah saatnya berpisah...." mungkin ada pelupuk mata yang harus jadi basah. dan ada air mata yang harus terjatuh. air mata kepedihan setelah melewati masa yang berat.... setahun ketika hidup bagaikan sebuah medan perang' berperang dengan diri sendiri yang lemah...berperang dengan perasaan sendiri ketika kita diperlakukan tidak adil oleh orang lain......

Masih ada juga air mata yang menggoreskan keharuan setelah setahun lewat ada banyak Rahmat dan Karunia-Nya yang mungkin tak terpikirkan sejak semula. di pergantian waktu ini jangan lupa untuk berucap; Terima Kasih Ya Tuhan..." sebab telah diberikan padamu teman yang selalu ada bersama dan memahamimu. walau ada rasa sakit saat bersama, namun lebih banyak berkah yang kau dapatkan. terima kasih pada mereka....
Yah.... pada pergantian angka-angka.... ada air mata sedih... ada pula air mata syukur. apapun yang pernah terjadi disaat lalu, hari ini semestinyalah terucap sebuah kalimat untuk hari kemarin "Kini tibalah saatnya kita berpisah........"

Bersama harap dan segala ketegaran untuk sebuah yang lebih baik .........

SELAMAT ULANG TAHUN

Terimakasih banyak kanda Suja'!