Wednesday, May 07, 2008

- S H E -

Pict 1: Pict 2:

Monday, April 28, 2008

Capture Of Me

Posting kali ini agak sedikit "narsis"... tapi yang Vy suka adalah momen nya. But Sometimes i have to publicate my self, right? Gak tau, akhir-akhir ini Vy lebih suka mengedit foto dengan themes "oldies" like sephia tone dengan sharpen tinggi... I really like the tone...

Pict 1:Pict 2:

Nice Weekend

Akhir Pekan Sabtu – Minggu.
12 - 13April 2008

Selepas subuh –Sabtu- seperti biasa aku asyik menikmati "Black Coffea" hangat di teras rumah panggung Nenek Dato –rutinitas yang selalu kulakukan di tiap akhir pekan jika menetap di sini dan tidak ke kota Makassar-. Duri-duri dari dingin pagi itu menusuk hingga ke tulang, menggigit -selalu seperti itu di tiap musim pancaroba, dinginnya luar biasa kata Nenek Dato-. Tapi pemandangan aktifitas pagi hari di pelosok desa -Jeneponto- ini terlalu menarik untuk dilewati. Apalagi pada hari pasar seperti ini dan musim panen Jagung dan Padi. Aktifitas masyarakat yang akan pergi ke pasar atau untuk pergi ke ladang dan sawah di pagi buta ini.

Bulu kudukku tiba-tiba merinding –bukan karena dingin tadi- tapi karena pemandangan yang tiba-tiba tersaji di hadapanku. Satu keluarga petani –lengkap- dengan peralatan bertani dan rantang makanan yang tampak usang –yang di dalamnya terdapat bekal makanan-. Sang ayah memimpin ekspedisi sambil menuntun 2 kuda di belakangnya, Ibu menggendong anak paling bungsu –perkiraanku sekitar 4 tahun-, dan dua kakak si bungsu di belakangnya, keduanya mendapat tugas membawa rantang usang itu dan ember besar berisi air minum. Samar-samar aku mendengar pembicaraan mereka tentang pengalaman sang Ayah kemudian diikuti tawa anggota keluarganya. MESRA sekali. Sekali lagi aku merinding, senyum lebarku tak tahan untuk terus di kulum dan perasaan iriku tak terbendung... Ehmmm... Lagi, aku mendapatkan momen indah.

Nenek Dato datang dan duduk tepat disampingku dengan segelas teh ditangannya. Pembicaraan dalam bahasa “Mangkasara” pun terjadi –lagi, kebisaanku bahasa Mangkasara di latih he2-. Nenek dato berbicara panjang lebar tentang adat istiadat dan akhirnya tentang berapa luas sawah yang Nenek Dato miliki. Diterangkan begitu jelas dimana lokasinya kepadaku, humph... entah untuk apa, tapi sedikit membantuku mengurangi kebutaanku soal lokasi-lokasi kampung di pelosok Jeneponto ini.

Ajakan menarik datang dari Nenek Dato. Karena padi Nenek Dato juga telah memasuki masa panennya, aku diajak untuk jalan-jalan ke sawah dan melihat proses panen itu. Tawaran yang sangat sayang untuk dilewati. Aku sudah sering melihatnya di televisi atau di buku-buku cerita anak-anak tentang “memanen padi” tapi untuk melihat langsung dan mencoba sama sekali pemgalaman baru. Kata Nenek Dato aku "WAJIB" memakai baju lengan panjang, kaus kaki, penutup mulut agar nanti tidak di serang gatal-gatal karena terkena gabah padi atau digigit binatang-binatang kecil yang gatal.


Tak butuh waktu lama untuk bersiap-siap diri, juga tak butuh mandi pagi dulu sebelum pergi ke sawah, toh akan kotor juga setelahnya... Sepanjang perjalanan menuju sawah Nenek Dato, aku melewati banyak sawah yang juga telah tiba masa panennya. Aku bertemu dengan keluarga –lengkap- tadi sedang mengerjakan salah satu sawah Nenek Dato. Mereka adalah keluarga yang dipercayakan untuk mengurus sawah Nenek Dato dengan sistem bagi hasil. Banyak juga keluarga lain yang mengerjakan sawah di sebelah Nenek Dato, rata-rata mereka adalah keluarga yang tinggal sekampung denganku jadi tawaran untuk singgah dan menyantap makan siang di sawah dengan lauk dan sayur "fresh" di masak di sawah sahut menyahut... Ehmmm gawat juga, kalau tawaran semuanya diladeni badan ku yang sebelumnya sudah "bengkak" tampaknya akan menjadi tambah "bengkak" he2... Dengan sopan -seperti ajaran Nenek Dato- aku selalu berkata "Terimakasih Karaeng" -kata penolakan yang paling sopan-.

Sesampai di sawah, bekal "sabit" yang diberikan Nenek Dato langsung aku gunakan untuk belajar mengait padi -dengan arahan sepupu- yang menguning. Tidak susah, tapi harus tetap hati-hati jangan sampai sabit yang tajam itu sampai mengenai tangan, bisa terputus katanya. Sekali dan dua kali masih terlalu kaku tapi setelahnya semuanya jadi lancar.... Beres! Nenek Dato yang sedang mengamati duduk di bawah pohon asam tertawa terbahak-bahak melihat kekakuanku. Nenek Dato di usianya sudah tidak mungkin untuk terjun langsung memanen padi, jadi menyerahkan segala urusan persawahan kepada orang yang telah dipercaya.

Waktu yang biasa di habiskan untuk memanen padi di satu sawah adalah dua hari. Hari pertama digunakan untuk mengait batang-batang padi, dan hari kedua untuk memisahkan butir-butir padi (gabah) dari tangkainya. Dua hari juga aku ikut dengan Nenek Dato ke sawahnya. Humphhh... ku hitung hanya sekitar 8 jam dalam 2 hari yang kuhabiskan untuk sekedar belajar semuanya, tapi rasanya ingin remuk saja semua badanku. Bisa kubayangkan mereka yang menghabiskan 10 jam sehari dalam seminggu atau satu bulan... Menurutku itulah hidup, terus berjuang untuk sesuatu yang lebih baik.


Lagi, selalu ada momen-momen indah untuk ku “CAPTURE”. Indah, entahlah apakah indah juga dari sisi “FOTOGRAFI”.
Pict 1. Pict 2.Pict 3.

Sunday, April 06, 2008

Di Ladang Jagung...

Kamis, 27 Maret 2008...

Hari ini tak ada niat untuk ke kantor. Ehmm sudah di niatkan sih dari hari sebelumnya, karena ada tawaran menarik dari tante untuk jalan-jalan ke ladang jagungnya karena sudah tiba masa panennya. Kesempatan baik untuk memvariasikan rutinas -perjalanan 30 km pulang pergi rumah dan kantor- . Alasan lainnya yaitu aku ingin sekali mendapatkan pemandangan pegunungan dengan hijau terhampar sekaligus "hunting foto", rasanya lama sekali tidak menjalankan hobi satu ku ini. Sekarang, rasanya tak ada yang indah dari hasil "jepretanku", HERAN! Apa karena sudah terlalu lama tidak melakukan aktifitas ini.

Pagi sekali, tepat setelah selesai melakukan sholat Subuh segala persiapan telah dilakukan tante untuk menuju ke ladang. Semua yang menyangkut perut harus utama bukan? he2. Aku, menyiapkan teh hangat untuk kubawa, dua bungkus kopi instant, buku bacaan, dan kamera pocket ku.. Lengkap! Setelahnya tinggal menyiapkan tenaga menuju ladang yang di atas bukit kurang lebih 6 km.

Pengalaman menarik buatku, belajar memanen jagung. Berjalan di tengah-tengah pohon jagung mengambil tongkol jagung ditengah rerumputan yang tingginya melebihi manusia bukan hal yang gampang. Resikonya, ya bertemu dengan makhluk-makhluk aneh, gatal-gatal diseluruh badan karena bulu-bulu halus jagung kuning, dan hitam karena begitu panasnya matahari menyengat kulit. Menyenangkan sekali untuk aku, yang ini adalah pengalaman pertama. Pelajaran selanjutnya adalah mengupas kulit jagung dan memipil bijinya. Mudah memang, tapi hasil yang di dapat setelahnya adalah pegal luar biasa di jari-jari tangan dan itu terjadi padaku. Jaminan 48 jam, sakitnya tak hilang. He2.

Aku sering sekali mendengar cerita dari Ummi, Abah atau dari sepupu-sepupu ku kalau menikmati makan siang di ladang atau sawah adalah hal yang luar biasa nikmatnya. Apapun lauknya semua terasa nikmat. Itu yang aku buktikan di perjalananku ini. Hasilnya, ehmm memang nikmat luar biasa, walaupun hanya dengan lauk ikan bandeng kuah santan dan ikan goreng serta sayung kacang hijau dicampur daun kelor segar yang langsung diambil dari ladang. Benar, jauh melewati nikmatnya makanan mahal. Ditambah dengan suasana pedesaan, pemandangan hijau ladang dan persawahan dan duduk di bale-bale, tepat di tengah ladang jagung. Ahhhhh suangguh luar biasa.

Pict 1:
Pict 2:Pict 3:
Pict 4:Pict 5:
Pict 6:Waktu tak terasa terus berjalan, dihabiskan di tengah ladang jagung. Berkumpul bersama sepupu, tante dan om dan candaan menarik. Hampir magrib, aku dan yang lainnya meninggalkan ladang jagung itu. Kembali ke rutinitasku...

Saturday, April 05, 2008

Melepas Kangen...

Sebulan lebih tidak mengupdate blog ini... Kangen sekali rasanya... Kesibukan luar biasa (sibuk??!!) he2 sedikit sibuk kok, akhirnya tidak bisa lebih sering ke Makassar dan mendapatkan akses internet. Alhamdulillah semuanya berjalan baik di tiap-tiap harinya, juga berkembang dengan baik walaupun ada sedikit hambatan, tapi kan bukan hidup kalau di beberapa kali waktu per tapakan kaki hidup itu tak ada cela... Yang membuat aku semakin kuat menghadapi hidup...

Hampir 70 hari keberadaanku di pelosok desa ini, proses adaptasi menjadi salah satu bahan renunganku tiap tengah malam ketika mata akan terlelap. Apa yang telah aku lakukan hari ini, bagaimana sosialisasiku hari ini dengan orang-orang yang aku temui, apakah gaya bicaraku tidak dianggap "kurangajar", apakah tatapan mataku tidak dianggap terlalu meremehkan... Humph... Terlau banyak rasanya hal-hal... Juga sama halnya ketika aku di makassar, tapi disini semua menjadi EKSTRA. Semuanya harus dipikirkan dengan EKSTRA.

Sejak 7 tahun lalu -ketika aku meninggalkan tanah kelahiran tercinta dan hidup menetap di Makassar- "Nenek Dato" banyak bercerita tentang adat istiadat Makassar -terutama Jeneponto-. Tentang bagaimana harus bersikap ketika bersosialisasi dengan orang-orang Jeneponto -tempat kelahiran Ummi dan Abah-. Terutama ketika memanggil nama mereka apakah harus didahului dengan kata DAENG atau KARAENG. Humphhh... Hal yang sampai hari ini masih sulit untuk ku kerjakan, buat aku yang jarang "pulang kampung" dan menghabiskan 8 tahun "bergaul" di makassar dan lebih banyak menggunakan kata umum IBU atau BAPAK bukan DAENG atau KARAENG. Dan banyak lagi hal-hal yang saat ini harus betul-betul kupelajari dan kupraktekkan baik-baik, jika tidak ingin menjadi bahan pembicaraan di kampungku -pelosok desa di Jeneponto- atau bahkan menjadi pembicaraan lintas kampung he2..

Sampai saat ini, dalam proses belajarku menghadapi budaya, adat istiadat dan aturan hidup di pelosok desa Jeneponto, aku telah menemukan irama yang mulai asyik kujalani. Hariku semakin teratur untuk kujalani, dengan warna-warna menarik... Pagiku dimulai sangat pagi disini -jauh berbeda ketika di Makassar dulu- adzan mesjid yang berada tak jauh dari rumah panggung Nenek Dato menjadi alarm tanda bahwa aktifitasku mulai dikerjakan. Bangun pagi, kalau sempat dan tidak diserang oleh udara dingin yang menggigit tulang, aku berjalan ke masjid melakukan shalat Subuh. Setelahnya adalah bersiap-siap menuju kantor. Jam 7 tepat aku harus menunggu ojek ketempat perhentian angkutan umum.

Salah satu hal yang kusyukuri ketika harus menaiki ojek atau angkutan umum. Banyak mengenal orang baru setiap harinya, belajar bersosialisasi dengan bahasa daerah "MANGKASARA" -hal yang masih begitu ganjal bagiku-. Oh ya juga yang menjadi favoritku yaitu jika aku selalu bisa mendapatkan hal-hal menarik di sepanjang perjalananku untuk di "CAPTURE" menjadi hasil dari "HOBI FOTOGRAFI". Pernah suatu kali, siang hari, bayangkan saja siang hari di tengah pelosok desa Jeneponto yang luar biasa terkenal "PANASnya". Rasa panasnya menembus ke ubun-ubun kepalaku hingga menimbulkan sakit yang luar biasa -tak terhankan- hingga obrolan asyik sang tukang ojek tentang silsilah turunan Bangsawan di Jeneponto menjadi sangat membosankan untukku... Ketika kepalaku seperti ditusukkan oleh duri-duri kaktus, aku melihat keramaian di depanku. Tukang ojek memberhentikan motornya..

"Ngapa i karaeng?" (Ada apa Pak?)
Tanyaku kepada tukang ojek itu.

"Nia tau molong bembe Karaeng. Tau ni hakika kapang."
(Ada orang potong kambing. Orang acara aqiqah mungkin)
Jawabnya, sambil mendongakkan kepalanya untuk melihat lebih jelas.

"Naung a rong paleng di', ero' ka acciniki."
(Saya turun dulu kalau begitu, saya mau lihat)
Secepatnya kukeluarkan kamera dari dalam tasku. Menarik buatku.

Pict 1:Pict 2:Hidup... Hanya perlu dinikmati. Hal yang sekarang begitu kunikmati. Bahkan sangat kunikmati.

Tuesday, March 04, 2008

Kelaparan, Ibu Hamil dan Anaknya Tewas

01/03/2008 18:14 Kasus Kelaparan
Kelaparan, Ibu Hamil dan Anaknya Tewas


Liputan6.com, Makassar: Besse yang tengah hamil tujuh bulan bersama Bahir (lima tahun), anaknya, Sabtu (1/3), meninggal setelah menderita kelaparan akibat tiga hari tidak makan. Sedangkan Sari dan Aco, dua anak korban yang lain, masih bisa diselamatkan.

Belum ada pernyataan secara medis yang menjelaskan warga Jalan Daeng Tata I itu meninggal akibat kelaparan. Namun keterangan Aisyah, tetangga Besse, menguatkan kondisi ekonomi keluarga Basri, suami korban yang berprosesi sebagai tukang becak, memang sangat memprihatikan. Sebab untuk makan saja mereka terkadang harus meminta kepada tetangga.

Kusuma Wardani, ahli gizi Dinas Kesehatan Makassar, mengakui tewasnya Besse serta anaknya karena kelaparan sebagai preseden buruk. "Masalah kelaparan ini bukan hanya departemen kesehatan saja yang menanganinya, tetapi ada beberapa instansi terkait," kata dia. Yang pasti, kondisi ini sangat ironis dengan predikat Sulawesi Selatan sebagai lumbung pangan

Syamsu Rizal, anggota DPRD Kota Makassar yang menangani masalah kesejahteraan masyarakat, geram mendengar ada warga Makassar yang meninggal akibat kekurangan pangan. "Ini sebagai kejadian memalukan yang menjadi tamparan bagi pemerintah kota dan seluruh masyarakat Kota Makassar," tutur dia.

Syamsu menuding kasus ini diakibatkan tidak adanya koordinasi dari instansi-instansi yang menangani kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, dia bertekad akan segera membawa masalah ini ke rapat dewan. Sementara itu, jenazah Besse dan Bahir hari ini telah dipulangka ke kampung halamannya di Kabupaten Bantaeng untuk dimakamkan.(BOG/Iwan Taruna dan Rizal Randa)

Sunday, March 02, 2008

Begitu Sulit Untukku

Tinggal jauh dari keramaian kota memang jauh lebih menyenangkan -seperti yang aku tulis di postingan -Dia Berlari meninggalkanku-. Sungguh jauh dari kebisingan dan polusi udara kota. Tapi satu hal yang membuat aku agak kewalahan tuk tinggal di pelosok desa ini.. Akomodasi yang begitu susahnya, membuat aktifitas yang aku akan kerjakan tertatih-tatih.

Jarak sekitar kurang lebih 15 km dari rumah untuk sampai dikantor, akan tidak menjadi masalah ditempuh kalau kondisinya sama seperti di ibukota Propinsi, akomodasi dan kondisi jalanan yang cukup nyaman. Di sini, di kota kecil ini semua serba sulit untuk ku. Sekitar 8 km jarak yang harus aku tempuh dengan ojek yang dalam waktu satu jam belum tentu ada yang melintas dan dengan kondisi jalanan yang amburadulnya luar biasa, aku tak tahu apa yang ada di dalam fikiran para pejabat-pejabat pemerintahan kabupaten ini pada saat membangunnya -apakah keinginan mengambil keuntungan lebih besar ketimbang rasa sayang kepada desanya sendiri- humph... lagi-lagi semuanya menyebalkan. Setelah 8 km itu kulewati, masih ada sisa-sisa kilometer lagi yang harus kulewati untuk sampai ke kantor, kali ini agak lebih baik karena merupakan jalanan poros lintas kabupaten...

Humphh.. tapi ya hingga akhir ini masih tetap bertahan... Walaupun rutinitas untuk mengupdate blog ini menjadi satu bulan sekali atau tidak sama sekali...

Saturday, February 16, 2008

Friday, February 15, 2008

I Love Them All ...

Pict 1: Pict 2:


Pict 3:

Dia berlari meninggalkanku...

Tak terasa waktu berjalan dan mengambil ancang-ancang untuk berlari dan saat ini aku terhuyung-huyung mengikutinya... Humph.. rasanya lelah tuk terus seperti itu.

Hidup dan menetap di desa jauh lebih menyenangkan sebenarnya. Ketenangan, kesejukan, keharmonisan alam, dan segala aspek alami alam masih sangat mudah di dapatkan disini... Satu langkah kaki dari pekarangan rumah, semua dapat telihat dengan jelas. Dalam landskap ini tidak ada satu kekurangan apa pun di mataku... Sempurna.


Tapi, aku tidak tahu kenapa ada satu celah jauh di dalam hatiku tak terisi dengan semua keindahan luar biasa dari sang khalik... Entahlah sampai saat ini belum juga kudapatkan kain penyumbat celah itu. Hampir 2 pekan sejak keberadaanku disini, belum ada juga sehelai benang penyumbat itu kutemukan. Humph...

Friday, February 01, 2008

Jeneponto dengan HijauNya

Pict 1:
Pict 2:

Betty! Dia Cantik!

01.34 PM. Thursday. 31012008
"Mace su lama trada kabar? Saya paling rindu sampe..
-Betty-"
recieved: 081344469***

01.37 PM. Thursday. 31012008
"Iiiii, Betty Papua ka ini? Aduh mace ko dapat sa pu nomor dari mana? Sa juga rindu ee.. Masih di Papua ka mace?"
sent: 081355864***

01.40 PM. Thursday. 31012008
"Iyo, cocok sudah, sa Betty Papua ini. Ko pu teman SD dulu. Sa dapat ko pu nomor dari teman-teman, kebetulan mereka ada jalan-jalan ke kota lalu kitorang ketemu. Jadi mereka kasih nomor. Iyo sa masih di Papua ini. Ko di makassar toh?"
recieved:081344469***

01.45 PM. Thursday. 31012008
"Puji tuhan Betty, tuhan maha besar sudah kitorang bisa sambung-sambung cerita lagi. Sa senang sekali. Cocok sudah, saya di makassar."
sent:081355864***

01.47 PM. Thursday. 31012008
"Iyo saudara. Saya ingat waktu kitong SD dulu. Muka hancur, su tra berbentuk. Trada rupa sudah. Sekarang su berubah pasti e.."
recieved:081344469***

01.49 PM. Thursday. 31012008
"Yooo mace, su tra kayak dulu lagi... haha. Ko juga tohh. "
sent:081355864***

01.52PM. Thursday. 31012008
"Iyoo tohh. Eh ko jaga diri baik-baik. Tuhan menyertai. Nanti sa telepon ko."
recieved:081344469***


Sms yang penuh dengan beribu kenangan luar biasa bersama sobat baik saya di Papua dulu. Hingga rasanya setiap ketikan kata yang ku tulis adalah kumpulan-kumpulan kenangan wujudnya dulu yang berusaha kusempurnakan sekarang. Wujud manusia cilik yang beberapa tahun lalu selalu kurindukan disetiap hari di sekolah kampungku. Wujud manusia cilik dengan mop-mop khas PAPUAnya, entah dari mana selalu dia dapatkan itu.

Bahagia tak terbendung mendapatkan pesan mu di telepon genggamku, ya telepon genggam yang di beberapa bagiannya sudah banyak goresan-goresan dan beberapa bagian pecah yang menandakan sudah sangat lama waktu hidupnya dan beberapa kali di perlakukan dengan semena-mena. Tetapi cukup menandakan bahwa aku telah berada pada jaman dimana televisipun bukan hitam putih lagi, lebih berwarna dan hidup.

Sungguh bahagia, bahagia bak aku telah menyelesaikan penyelaman luar biasa di lautan yang ditumbuhi dengan terumbu-terumbu karang yang berwarna-warni seperti pelangi dan ditemani dengan sejuta ikan-ikan cantik jenis Heniochus acuminatus, yang ditubuhnya mempunyai garis-garis hitam putih yang lebar dengan ekornya yang kuning atau dari jenis Zanchus cornutus yang sirip punggungnya panjang sekali dengan mulutnya monyong panjang kedepan (memang ada monyong kebelakang??!) dengan dasar putih-kuning dan ditimpa garis-garis hitam yang lebar. Melihat meraka bermain-main di terumbu karang, pancaran aura yang luar biasa. Pemandangan yang selalu kuumpamakan dengan surga kecil membuatku seperti di awang-awang...

Betty. Sobat kecil dulu, adalah anak pribumi PAPUA. Maafkan ku dengan setulus hatimu karena aku sungguh lupa Fam keluargamu. Tidak seperti kebanyakan anak Pribumi lainnya, kulitnya lebih putih. Cantik, itu selalu yang kugumamkan dalam hati setiap kali melihatnya. Setiap pagi, pada saat berangkat ke sekolah karena jarak rumahku lebih jauh di atas bukit, dia selalu setia menantiku di depan rumahnya, di waktu dan tempat yang sama, di rumah rumbia kecil tepat di depan rumahnya -yang biasa digunakan seluruh keluarganya berkumpul tuk sekedar santai- kecuali dia tidak masuk sekolah, kakak atau Ibunya menitipkan sepucuk surat untuk guru. Rambutnya tersisir kebelakang dengan ikatan kuncir kuda, rapih sekali. Atau kalau bosan dengan model rambut seperti kuda itu dia selalu mengepang kecil seluruh rambutnya, seperi cacing-cacing yang dia deretkan di atas kepalanya. Aku selalu berdecak kagum melihat teman-teman pribumiku dengan model rambut seperti ini, haaaa berapa lama dia kerjakan untuk mendapatkan model seperti ini.

Postur tubuhnya jauh lebih besar dari pada aku waktu, beberapa kali ketika pulang sekolah, ketika aku tak sanggup dan nafas tersengal-sengal dengan tulusnya ia menawarkan punggungnya untuk kutunggangi pulang. Rasanya tak tega apalagi dengan jalanan yang mendaki bukit dan jarak yang tidak dekat. Ahhh, betapa saat itu kucintai dan kusayangi dirimu dengan sepenuh hatiku Betty. Begitu tulusmu dengan segala kebaikanmu. Merasa belum cukup dengan kebaikan yang ia berikan kepadaku -tunggangan- ia merasa berkewajiban memberikan hiburan, mengalir dari mulutnya cerita-cerita mop luar biasa mengocok perutku. Hingga pada saat aku tertawa, jalannya menjadi limbung karena penumpangnya tak tahu diri tertawa seenak udelnya saja....

Suatu siang yang lain pada saat kami pulang sekolah, melewati lagi-lagi bukit yang sama.. Betty mencoba mencari alternatif jalan yang berbeda dengan melewati jalan tikus di sisi lain bukit. Setelah lama berfikir dan mengingat-ingat lagi pesan Ummi "Jangan pernah lewat jalan di belakang Bukit Vy kalo ko sendiri!". Takut rasanya aku bakal mengkhiati janjiku dengan Ummi, tapi aku kan tidak sendiri ada Betty menemaniku. Aku juga bosan melewati jalan yang sama apalagi ketika nanti harus bertemu dengan teman-teman gedungku yang selalu membuat bulir-bulir jernih dari mataku harus keluar... Anggukanku dijadikan komando oleh Betty untuk melangkahkan kakinya. Dia yang menjadi ketua ekspedisi ini. Ohh, astaga setelah mulai menaiki bukit itu, aku tahu kenapa Ummi sangat melarangku melewatinya. Ini bukan jalan tikus, ini jalan ular. Pasti akan ada banyak ular yang melewatinya, rumput-rumput segar yang tingginya melewati tubuh kecilku, dan jalannya licin dipenuhi dengan lumpur. Aku ketakutan, takut luar biasa! Rasanya ingin pipis di celana saja. Aku memegang erat bagian belakang lengannya, seperti orang sedang meremas ampas kelapa untuk diambil santannya. Mataku memerah karena rasanya bulir-bulir itu tak tertahankan, keringat mengucur deras bak butir-butir air yang keluar dari es yang dicampurkan air.

"Ko jangan takut Evy!"
Sambil menatap mataku, menguatkan perasaanku. Seperti pada saat seorang pelatih memberikan semangat kepada anak didiknya agar berhasil di dalam pertandingannya. Benar, dia berhasil membuat ketakutanku sedikit berkurang. Tapi kembali membuncah saat kulihat sisi kananku, ahhh dalam sekali jurang itu. Pasti kita akan meninggal seketika kalau jatuh di dalamnya bukan karena hanya jatuh tapi tubuhku akan digerogoti seenaknya oleh makhluk-makhluk aneh. Sisi kiriku tak kalah mengerikan, bukit tinggi dengan batu-batu besar di atasnya. Tak dapat kutahan ketakutanku bagaimana tiba-tiba terjadi longsor dan batu-batu itu menimpaku, otakku akan berserakan dan semua bunga-bunga hidup yang kutanam hancur berantakan. Jauh lebih deras keringatku bercucuran, tangaku yang dapat kurasakan seperti es. Betty rasakan itu.

"Wee ko jangn takut begitu, Evy ko tau kah sa pu tempat rahasia disini katong bisa liat semua pemandangan...Su dekat tu di depan"
Lagi sambil menatap mataku, jauh lebih dalam dia selami dan mengambil gundah itu dan membuangnya jatuh ke dalam jurang. Lagi dia berhasil, jauh lebih berhasil dari usaha pertamanya. Ketika sampai di tempat rahasianya -aku baru tahu ini bukan pertama kalinya dia lewat jalan ini- Fantastik! Cantik! Semua dapat kulihat dari atas sini, pelabuhan kota jayapura, pantai BASE G, lautan terpapar indah, hijaunya pulau dan daratan Papua tercinta. Hanya satu pulau yang aku ketahui namanya itupun karena Betty dan teman-temanku yang lain memberitahuku "Pulau Babi" entah kenapa disebut begitu. Entahlah, tapi pulau itu yang memang paling bersinar di malam hari dibandingkan yang lainnya, ada salib besar yang menjulang naik dari tengah pulaunya, kalau malah hari lampunya berkedip-kedip cantik -aku tak tahu sekarang apa masih seperti itu- Pulau-pulau yang ada di hamparan laut indah ini seperti tahi lalat yang menambah cantiknya muka seseorang. Luar biasa!

"Bagus Toh"
Betty menyenggol tubuhku dan tersenyum. Cantik sekali dengan senyum manisnya itu. Ehmm wahai engaku wujud pertama yang mengenalkan aku pada tempat indah ini cintaku tak terhingga padamu.

"Ini Vy, ko coba!"
Betty memberikan buah kecil berbentuk torpedo berwarna hijau, buah panjang seperti pensil namun lentur berwarna hijau dengan bintil binti disekujur tubuhnya dan serbuk putih dalam bungkusan kecil kertas putih yang dilipat. Aku kenal ini, bukankah itu adalah buah pinang, sirih dan kapur sirih, satu set perlengkapan memakan pinang. Apalagi yang ingin dia kenalkan padaku. Apakah dia ingin aku coba memakannya. Perasaan campur aduk, sudah sejak lama aku ingin mencicipinya. Tapi ada rasa takut karena beberapa orang bilang rasanya pahit sekali. Takutku tak sebanding dengan rasa penasaranku. Aku mencoba dengan tuntunan dari dia, mulai cara mengupas buah pinang dan mulai menggigitnya. Orang-orang itu tidak bohong, rasanya memang pahit, malah sangat pahit. Aku ingin segera memuntahkannya, tapi matanya menatapku dengan tajam seakan menyuruhku untuk tidak melakukannya. Aku turuti permintaannya, aku berusaha menahan rasa pahit itu. Dia membalur buah sirih itu dengan kapur sirih kemudian menmberikan kepadaku untuk dimakan. Aku ikuti kemauannya. Ada rasa panas, aneh, pahit, sepat bercampur dalam mulutku. Tetapi setelah lama ku kunyah rasanya jauh lebih baik, malah menurutku enak. Dia mengajarakan untuk membuang air sisa kunyahan jika sudah menumpuk dalam mulut. Ku ikuti semua caranya.... Kami saling bertatapan, kemudian tertawa terbahak-bahak bersama. Tawa semakin jadi hingga perutku sakit ketika melihat giginya yang merah akibat pinang begitupun sebaliknya dia tertawa terbahak-bahak menahan perutnya. DIA CANTIK! Setelah praktek belajar mengajar di bukit itu, aku semakin ketagihan untuk memakan pinang. Tak rutin tapi sering dia sering membawakan pinang khusus untukku.

Ahhh, begitu banyak yang engkau berikan padaku Betty! Beribu Cinta dan Sayangku untukmu! Terimakasih sudah memperkenalkan banyak tentang PAPUA dan menjadi sebagian bunga-bunga hidup yang akan kuceritakan pada anak dan cucuku kelak...