Kali ini kira-kira jam 3 siang, suasana mendung......
Model Dago dan Ate.... (gak banget... he2)
Pict 1:
For the broken heart this is a sweet lullaby..For all the weary souls please do not cry..
This lullaby is for those who can not seem to keep a piece of mind..
Trying to explain emotions And words I can not seem to find..
Mengapa gadis lugu di bawah umur tersebut terlibat dalam bisnis seks? Yang pasti kata Pataya dan puying adalah dua kata yang interconnectedness dan sangat dekat hubungannya dengan kemiskinan di Thailand. Tak hanya Pattaya sebenarnya yang menjadi tempat berlangsungnya bisnis seks. Masih ada daerah Patpong yang letaknya di downtown-nya Bangkok. Patpong disebut-sebut sebagai bisnis seks dengan omzet terbesar se Asia Tenggara. Sementara Pattaya adalah daerah otonomi khusus di sebelah utara Daerah yang terletak di sebelah utara Bangkok ini konon merupakan lokalisasi tertua.
Meningkatnya migrasi perempuan ke kota, khususnya pada industri seks dapat dikaitkan dengan ekspektasi kultur dan struktur ekonomi yang berkembang di negeri gajah ini. Di kultur masyarakat Thai, nilai tertinggi menjadi perempuan terletak pada jenis pekerjaan dan seberapa besar uang yang disumbangkan untuk keluarga dan saudara-saudaranya. Banyak studi melaporkan bahwa anak perempuanlah yang nyata-nyata banyak memberikan bantuan pada orang tua mereka. Sementara anak laki-laki cukup dengan kesediaannya menjalani hidup sebagai monk (biksu) minimal satu kali dalam kehidupannya sudah bisa membanggakan orang tua.
Dalam ajaran Budha, ketika anak laki-laki mengenakan baju kuning biksu dan orang tuanya menyentuhnya, maka kelak ketika mereka meninggal maka arwahnya akan pergi ke arwana. Ow, teman perempuan Thai saya menuturkan bahwa walaupun anak laki-laki tidak bekerja, asalkan mau menjalani hidup sebagai biksu, sehari saja, sudah disanjung keluarga. Berbeda dengan anak perempuan yang berapapun kebaikan yang dibuatnya, taruhlah mengirimkan semua jerih payahnya untuk kemakmuran keluarga, tetap derajatnya tidak lebih baik dari anak laki-laki.
Nilai-nilai patriarki sangat kental mengkonstruksi makna “menjadi perempuan Thai”, dimana lingkup kehidupan mereka hanya rumah dan desanya, wajib menjaga kesucian dan keperawanan sebelum menikah, dan sesudahnya dituntut untuk monogami. Sebaliknya menjadi laki-laki di masyarakat Thai adalah anugerah. Mereka senantiasa mendapatkan kesempatan dan malah didorong untuk bersosialisasi dengan kehidupan sosial di luar keluarga dan dimaklumkan dengan permisivitas seks. Ketika kewajiban-kewajiban sebagai perempuan Thai diterjemahkan dalam bahasa praktis yaitu membantu keluarga atau mensupport pendidikan saudara-saudaranya, bersamaan itu permintaan pekerja perempuan di kota semakin meningkat, dibarengi lunturnya nilai-nilai tradisional sebagai perempuan karena ketergantungan keluarga secara materi pada anak perempuan semakin meningkat, membuat pilihan migrasi tanpa proteksi dari anggota keluarganya dan dukungan orang tua menjadi tak terelakkan. Apalagi didukung terbatasnya lapangan pekerjaan bagi perempuan di desa-desa, serta rendahnya pendidikan yang mustahil mendatangkan pendapatan tinggi. Kondisi inilah yang membuat para perempuan mempersepsikan bahwa menjadi pekerja seks adalah pilihan satu-satunya yang bisa menghasilkan big money.
Jatuhnya pilihan perempuan pada industri seks secara historis ada kaitannya dengan tradisi dan situasi ekonomi politik internasional di Thailand. Dulu pada zaman pre komunis Cina, keberadaan rumah border diterima masyarakat sebagai bagian dari kehidupan sosial. Bahkan sampai sekarang para istri lebih merelakan suaminya “jajan” di luar ketimbang mempunyai istri simpanan. Karena hubungan dengan pekerja seks ádalah murni hubungan jual beli. Berbeda dengan mempunyai istri simpanan, yang akan melibatkan emosi, cinta dan hak waris. Pada tahun 1932 sampai berakhirnya perang dunia kedua 1945, Jepang berhasil menaklukkan Cina. Selama periode itulah perempuan-perempuan dipaksa untuk melayani seks tentara Jepang dan kebanyakan comfort women didatangkan dari Asia, salah satunya Thailand. Tahun 1967, Thailand sepakat menyediakan diri sebagai R&R (Rest and Recreation) spot bagi tentara Amerika selama perang Vietnam. Pada saat itulah booming prostitusi. Sekitar 400,000 perempuan terlibat bisnis seks yang kemudian ditelantarkan setelah perang usai dan akhirnya diambil alih oleh sektor wisata.
Smart Response Allows HFH Indonesia To Raise House And Funding Targets
YOGYAKARTA, 10th January 2007: Racing ahead of schedule, Habitat for Humanity Indonesia has achieved its target of building 1,000 houses for survivors of last year’s massive earthquake in Central Java, six months ahead of time.
As of November 2006, a total of 1, 085 houses had been completed
Fresh start: Habitat home partners from Kralas,
stand proudly in front of their new house.
The success to date can be put down to several specific reasons. First is the ability to harness “gotong royong” or a strong grassroots spirit: almost all the labor for rebuilding a community comes from within that community.
Second is the availability of sufficient architectural or construction expertise. This helped in the design of houses that minimizes cost but fulfills the need for earthquake-resistant structures. This approach plus the re-use materials has trimmed one-third off the cost of a house.
Another factor has been the HFH Indonesia’s ability to secure project funding speedily. Supporters, both corporations and individuals, came forward readily, enabling Habitat to determine project goals and budgets quickly. Lessons learnt from Habitat for Humanity’s rebuilding program in Aceh after the 2004 tsunami were applied and expedited the startup of the rebuilding project for Yogyakarta. Strong and well-structured teams on local, national and regional levels also enabled an early response to assess and plan what needed to be done.
Satisfied: volunteers from local firm PT Lautan Laus, Tbk,
worked with learn to sieve sand
Delighted by the progress and encouraged by the community, HFH Indonesia has increased the target to 1,500 houses to be built by the middle of 2007. Currently, US$1 million has been raised for the rebuilding project; another US$500,000 will be needed to complete it.
The target includes building 500 homes adapted to the needs of the disabled. Building on the first houses will begin shortly in a partnership with fellow non-governmental organization CARITAS,
the Roman Catholic aid agency.
Stepping forward to lend their support to the rebuilding work have been corporate giants such as Nokia, GE, DOW Chemicals, ABC Group, ExxonMobil, Microsoft,
Cargill Indonesia and PT Lautan Luas.
New hope: Sukarjo’s youngest daughter Evi was paralyzed from the waist down because of the earthquake.
Pict 2:
Pict 3:
Pict 5:
Pict 6:
Anakku,…
Bila ibu boleh memilih
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu
Maka ibu akan memilih mengandungmu…
Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah
Sembilan bulan nak,… engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata…
Anakku,…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar, atau ibu harus berjuang melahirkanmu
Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit,
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun
Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia
Saat itulah… saat paling membahagiakan
Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah,
Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di telinga mungilmu
Anakku,…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah, atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu,
Maka ibu memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu dalam kantuk ibu,
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan
Anakku,…
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu
Tetapi anakku…
Hidup memang pilihan…
Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana
Maka maafkanlah nak…
Maafkan ibu…
Maafkan ibu…
Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita,
Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang
Percayalah nak…
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu
Percayalah nak…
Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu…
Ratih Sanggarwati (Ratih Sang)
Jakarta, 21 Agustus 2004
Dikutip dari Bila Ibu Boleh Memilih, kumpulan puisi hati Ratih Sanggarwati.
Lihat: KCM - Ratih Sanggarwati: Puisi Untuk Si Kecil
Pict 2:Just go away with my day...
Pict 3: Looking to the Rosses
Pict 4: Dont Ever Looking Into a Dirty Mirror...
Pict 5: Two Of Me...

