Friday, February 01, 2008

Jeneponto dengan HijauNya

Pict 1:
Pict 2:

Betty! Dia Cantik!

01.34 PM. Thursday. 31012008
"Mace su lama trada kabar? Saya paling rindu sampe..
-Betty-"
recieved: 081344469***

01.37 PM. Thursday. 31012008
"Iiiii, Betty Papua ka ini? Aduh mace ko dapat sa pu nomor dari mana? Sa juga rindu ee.. Masih di Papua ka mace?"
sent: 081355864***

01.40 PM. Thursday. 31012008
"Iyo, cocok sudah, sa Betty Papua ini. Ko pu teman SD dulu. Sa dapat ko pu nomor dari teman-teman, kebetulan mereka ada jalan-jalan ke kota lalu kitorang ketemu. Jadi mereka kasih nomor. Iyo sa masih di Papua ini. Ko di makassar toh?"
recieved:081344469***

01.45 PM. Thursday. 31012008
"Puji tuhan Betty, tuhan maha besar sudah kitorang bisa sambung-sambung cerita lagi. Sa senang sekali. Cocok sudah, saya di makassar."
sent:081355864***

01.47 PM. Thursday. 31012008
"Iyo saudara. Saya ingat waktu kitong SD dulu. Muka hancur, su tra berbentuk. Trada rupa sudah. Sekarang su berubah pasti e.."
recieved:081344469***

01.49 PM. Thursday. 31012008
"Yooo mace, su tra kayak dulu lagi... haha. Ko juga tohh. "
sent:081355864***

01.52PM. Thursday. 31012008
"Iyoo tohh. Eh ko jaga diri baik-baik. Tuhan menyertai. Nanti sa telepon ko."
recieved:081344469***


Sms yang penuh dengan beribu kenangan luar biasa bersama sobat baik saya di Papua dulu. Hingga rasanya setiap ketikan kata yang ku tulis adalah kumpulan-kumpulan kenangan wujudnya dulu yang berusaha kusempurnakan sekarang. Wujud manusia cilik yang beberapa tahun lalu selalu kurindukan disetiap hari di sekolah kampungku. Wujud manusia cilik dengan mop-mop khas PAPUAnya, entah dari mana selalu dia dapatkan itu.

Bahagia tak terbendung mendapatkan pesan mu di telepon genggamku, ya telepon genggam yang di beberapa bagiannya sudah banyak goresan-goresan dan beberapa bagian pecah yang menandakan sudah sangat lama waktu hidupnya dan beberapa kali di perlakukan dengan semena-mena. Tetapi cukup menandakan bahwa aku telah berada pada jaman dimana televisipun bukan hitam putih lagi, lebih berwarna dan hidup.

Sungguh bahagia, bahagia bak aku telah menyelesaikan penyelaman luar biasa di lautan yang ditumbuhi dengan terumbu-terumbu karang yang berwarna-warni seperti pelangi dan ditemani dengan sejuta ikan-ikan cantik jenis Heniochus acuminatus, yang ditubuhnya mempunyai garis-garis hitam putih yang lebar dengan ekornya yang kuning atau dari jenis Zanchus cornutus yang sirip punggungnya panjang sekali dengan mulutnya monyong panjang kedepan (memang ada monyong kebelakang??!) dengan dasar putih-kuning dan ditimpa garis-garis hitam yang lebar. Melihat meraka bermain-main di terumbu karang, pancaran aura yang luar biasa. Pemandangan yang selalu kuumpamakan dengan surga kecil membuatku seperti di awang-awang...

Betty. Sobat kecil dulu, adalah anak pribumi PAPUA. Maafkan ku dengan setulus hatimu karena aku sungguh lupa Fam keluargamu. Tidak seperti kebanyakan anak Pribumi lainnya, kulitnya lebih putih. Cantik, itu selalu yang kugumamkan dalam hati setiap kali melihatnya. Setiap pagi, pada saat berangkat ke sekolah karena jarak rumahku lebih jauh di atas bukit, dia selalu setia menantiku di depan rumahnya, di waktu dan tempat yang sama, di rumah rumbia kecil tepat di depan rumahnya -yang biasa digunakan seluruh keluarganya berkumpul tuk sekedar santai- kecuali dia tidak masuk sekolah, kakak atau Ibunya menitipkan sepucuk surat untuk guru. Rambutnya tersisir kebelakang dengan ikatan kuncir kuda, rapih sekali. Atau kalau bosan dengan model rambut seperti kuda itu dia selalu mengepang kecil seluruh rambutnya, seperi cacing-cacing yang dia deretkan di atas kepalanya. Aku selalu berdecak kagum melihat teman-teman pribumiku dengan model rambut seperti ini, haaaa berapa lama dia kerjakan untuk mendapatkan model seperti ini.

Postur tubuhnya jauh lebih besar dari pada aku waktu, beberapa kali ketika pulang sekolah, ketika aku tak sanggup dan nafas tersengal-sengal dengan tulusnya ia menawarkan punggungnya untuk kutunggangi pulang. Rasanya tak tega apalagi dengan jalanan yang mendaki bukit dan jarak yang tidak dekat. Ahhh, betapa saat itu kucintai dan kusayangi dirimu dengan sepenuh hatiku Betty. Begitu tulusmu dengan segala kebaikanmu. Merasa belum cukup dengan kebaikan yang ia berikan kepadaku -tunggangan- ia merasa berkewajiban memberikan hiburan, mengalir dari mulutnya cerita-cerita mop luar biasa mengocok perutku. Hingga pada saat aku tertawa, jalannya menjadi limbung karena penumpangnya tak tahu diri tertawa seenak udelnya saja....

Suatu siang yang lain pada saat kami pulang sekolah, melewati lagi-lagi bukit yang sama.. Betty mencoba mencari alternatif jalan yang berbeda dengan melewati jalan tikus di sisi lain bukit. Setelah lama berfikir dan mengingat-ingat lagi pesan Ummi "Jangan pernah lewat jalan di belakang Bukit Vy kalo ko sendiri!". Takut rasanya aku bakal mengkhiati janjiku dengan Ummi, tapi aku kan tidak sendiri ada Betty menemaniku. Aku juga bosan melewati jalan yang sama apalagi ketika nanti harus bertemu dengan teman-teman gedungku yang selalu membuat bulir-bulir jernih dari mataku harus keluar... Anggukanku dijadikan komando oleh Betty untuk melangkahkan kakinya. Dia yang menjadi ketua ekspedisi ini. Ohh, astaga setelah mulai menaiki bukit itu, aku tahu kenapa Ummi sangat melarangku melewatinya. Ini bukan jalan tikus, ini jalan ular. Pasti akan ada banyak ular yang melewatinya, rumput-rumput segar yang tingginya melewati tubuh kecilku, dan jalannya licin dipenuhi dengan lumpur. Aku ketakutan, takut luar biasa! Rasanya ingin pipis di celana saja. Aku memegang erat bagian belakang lengannya, seperti orang sedang meremas ampas kelapa untuk diambil santannya. Mataku memerah karena rasanya bulir-bulir itu tak tertahankan, keringat mengucur deras bak butir-butir air yang keluar dari es yang dicampurkan air.

"Ko jangan takut Evy!"
Sambil menatap mataku, menguatkan perasaanku. Seperti pada saat seorang pelatih memberikan semangat kepada anak didiknya agar berhasil di dalam pertandingannya. Benar, dia berhasil membuat ketakutanku sedikit berkurang. Tapi kembali membuncah saat kulihat sisi kananku, ahhh dalam sekali jurang itu. Pasti kita akan meninggal seketika kalau jatuh di dalamnya bukan karena hanya jatuh tapi tubuhku akan digerogoti seenaknya oleh makhluk-makhluk aneh. Sisi kiriku tak kalah mengerikan, bukit tinggi dengan batu-batu besar di atasnya. Tak dapat kutahan ketakutanku bagaimana tiba-tiba terjadi longsor dan batu-batu itu menimpaku, otakku akan berserakan dan semua bunga-bunga hidup yang kutanam hancur berantakan. Jauh lebih deras keringatku bercucuran, tangaku yang dapat kurasakan seperti es. Betty rasakan itu.

"Wee ko jangn takut begitu, Evy ko tau kah sa pu tempat rahasia disini katong bisa liat semua pemandangan...Su dekat tu di depan"
Lagi sambil menatap mataku, jauh lebih dalam dia selami dan mengambil gundah itu dan membuangnya jatuh ke dalam jurang. Lagi dia berhasil, jauh lebih berhasil dari usaha pertamanya. Ketika sampai di tempat rahasianya -aku baru tahu ini bukan pertama kalinya dia lewat jalan ini- Fantastik! Cantik! Semua dapat kulihat dari atas sini, pelabuhan kota jayapura, pantai BASE G, lautan terpapar indah, hijaunya pulau dan daratan Papua tercinta. Hanya satu pulau yang aku ketahui namanya itupun karena Betty dan teman-temanku yang lain memberitahuku "Pulau Babi" entah kenapa disebut begitu. Entahlah, tapi pulau itu yang memang paling bersinar di malam hari dibandingkan yang lainnya, ada salib besar yang menjulang naik dari tengah pulaunya, kalau malah hari lampunya berkedip-kedip cantik -aku tak tahu sekarang apa masih seperti itu- Pulau-pulau yang ada di hamparan laut indah ini seperti tahi lalat yang menambah cantiknya muka seseorang. Luar biasa!

"Bagus Toh"
Betty menyenggol tubuhku dan tersenyum. Cantik sekali dengan senyum manisnya itu. Ehmm wahai engaku wujud pertama yang mengenalkan aku pada tempat indah ini cintaku tak terhingga padamu.

"Ini Vy, ko coba!"
Betty memberikan buah kecil berbentuk torpedo berwarna hijau, buah panjang seperti pensil namun lentur berwarna hijau dengan bintil binti disekujur tubuhnya dan serbuk putih dalam bungkusan kecil kertas putih yang dilipat. Aku kenal ini, bukankah itu adalah buah pinang, sirih dan kapur sirih, satu set perlengkapan memakan pinang. Apalagi yang ingin dia kenalkan padaku. Apakah dia ingin aku coba memakannya. Perasaan campur aduk, sudah sejak lama aku ingin mencicipinya. Tapi ada rasa takut karena beberapa orang bilang rasanya pahit sekali. Takutku tak sebanding dengan rasa penasaranku. Aku mencoba dengan tuntunan dari dia, mulai cara mengupas buah pinang dan mulai menggigitnya. Orang-orang itu tidak bohong, rasanya memang pahit, malah sangat pahit. Aku ingin segera memuntahkannya, tapi matanya menatapku dengan tajam seakan menyuruhku untuk tidak melakukannya. Aku turuti permintaannya, aku berusaha menahan rasa pahit itu. Dia membalur buah sirih itu dengan kapur sirih kemudian menmberikan kepadaku untuk dimakan. Aku ikuti kemauannya. Ada rasa panas, aneh, pahit, sepat bercampur dalam mulutku. Tetapi setelah lama ku kunyah rasanya jauh lebih baik, malah menurutku enak. Dia mengajarakan untuk membuang air sisa kunyahan jika sudah menumpuk dalam mulut. Ku ikuti semua caranya.... Kami saling bertatapan, kemudian tertawa terbahak-bahak bersama. Tawa semakin jadi hingga perutku sakit ketika melihat giginya yang merah akibat pinang begitupun sebaliknya dia tertawa terbahak-bahak menahan perutnya. DIA CANTIK! Setelah praktek belajar mengajar di bukit itu, aku semakin ketagihan untuk memakan pinang. Tak rutin tapi sering dia sering membawakan pinang khusus untukku.

Ahhh, begitu banyak yang engkau berikan padaku Betty! Beribu Cinta dan Sayangku untukmu! Terimakasih sudah memperkenalkan banyak tentang PAPUA dan menjadi sebagian bunga-bunga hidup yang akan kuceritakan pada anak dan cucuku kelak...

Wednesday, January 30, 2008

Saturday, January 26, 2008

Beribu Hikmah Sakit...

Malam itu rasanya tubuhku tak lagi bersahabat untuk melakukan semua aktifitas rutin yang ingin ku kerjakan... Dingin luar biasa menyerang sekujur tubuh, hingga rasanya mulai merembes masuk ke dalam tulang-tulangku... Sungguh rasanya memilukan, lebih sakit rasanya ketimbang "sakit hati" _^

Dalam kondisi begini, tidak enak rasanya tidur sendiri di dalam kamar pengapku karena di beberapa bagian temboknya lembab, sisa-sisa banjir dahsyat di Makassar tahun 1999.. ehmm juga ditemani dengan beberapa boneka yang diantara mereka selalu menatap kejam ke arahku karena sudah hampir 5 tahun tak pernah kuelus hingga benangnya kusut dan berubah warna menjadi kusam. Yaaa aku ingat betul sudah hampir 5 tahun sejak kesibukan kuliah tentang meteorologi laut, geologi laut, ikhtiologi, pencemaran laut, oseaonografi fisika, oseanografi kimia, biologi laut, coralogy, etc; praktikum menghitung jumlah telur dan kematanagan ikan teri, menganalisis persentase Dissolved Oxygen, Sedimentasi, Nitrat, Nitrit di perairan ini dan itu di laboaratorium atau praktek lapang mencari tahu tentang luasan karang, lamun, dan mangrove entah di pulau mana... humph... Wajar memang memang mereka memandang kejam ke arahku setelah beribu-ribu kebaikan mereka menemani dan meminjamkan benang-benangnya untukku ketika hati gundah dan air mata berlinangan...

Aku segera bergegas mengambil selimut tebal yang setia menemaniku dalam dingin malam sejak belasan tahun lalu menuju kamar Ummi dan Abah. Ini dia tempat teraman jika kondisi tubuhku seperti ini. Belaian lembut Ummi cukup dapat mengurangi secuil ngilu itu. Ummi, panggilanku kepada seorang perempuan yang telah memberikan tempat hangat selama 9 bulan di dalam rahimnya dan asupan energi yang cukup untukku... Aku rasa ini akan menjadi panggilan abadiku kepada Ummi setelah beberapa kali kurubah panggilanku kepadanya. Panggilan lainnya tak tahan melekat hanya sekitar 3-4 tahun. Tak tega melihat tubuhku bergetar bak mesin cuci harga murah sedang mengeringkan pakaian, Ummi mengambil selimut tebal lainnya dan menindihnya di atas selimut tebalku yang telah terlebih dahulu membalut tubuhku. Kemudian berusaha memelukku... Walau rasanya seluruh panas tubuh Ummi berusaha ditransferkan kepadaku, tetap tidak ada perubahan bagiku... Rasa dingin luar biasa menyerangku... Aku menggigil sejadi jadinya...

Ummi, perempuan luar biasa yang pernah ku kenal dalam hidup! Aku rasa apa pun akan dilakukan untukku, anak semata wayangnya, pelengkap kebahagian dalam hidupnya, buah hati yang selama 4 tahun dinantikan untuk melengkapi pernikahannya dan anak yang "menyebalkan" karena setiap saat mencuri-curi pelukan dan ciuman hangatnya. Aku ingat betul saat sekolah di Sekolah Dasar Inpres Dok VIII Jayapura dulu dari kelas dasar hingga tamat, Ummi setia mengantar ku menuruni gunung sekitar 1 km menuju sekolah kampung di bawah gunung sana sambil menyuapi makanan. Kadang aku merasa malu dengan teman-teman yang melihatku. "Su di antar sama mama, disuapi makan lagi". Begitu kata mereka dengan logat PAPUA yang kental melihat hari-hari ku yang selalu di temani Ummi.

Ada juga pengalaman lainku, yang akhirnya menyadarkanku begitu hebatnya Perempuan yang telah melahirkanku.

Ketika di Sekolah Dasar, aku adalah satu-satunya anak perempuan di Kompleks Rumah Dinas ku yang bersekolah di sekolah kampung itu selebihnya hanya sekitar 3 orang laki-laki. Di sekolah ku mayoritas adalah anak-anak pribumi PAPUA, saat itu aku bisa menghitung dengan jari teman-teman ku yang pendatang. Teman-teman di kompleksku yang jumlahnya lebih 20 orang dan kesemuanya anak-anak pejabat disekolahkan oleh orang tuanya di sekolah swasta terkenal di kota jayapura. Siang itu di terik matahari, aku ingat betul aku bersama teman-teman pribumi PAPUA berjalan kaki pulang kerumah, mendaki gunung sambil mengobrol dan makan buah pinang. Tiba-tiba melintas mobil jemputan sekolah teman-teman "gedongku", setelah sadar yang dilewati itu aku mereka menyuruh supirnya untuk berhenti dan berbalik ke arahku. Saat itu hatiku luar biasa gembira, pikirku akhirnya rutinas jalan kaki mendaki gunungku akan bervariasi dengan naik mobil pulang sekolah dan tentu saja mengurangi keletihanku naik turun gunung setiap harinya. Ternyata perkiraanku salah, mereka menertawaiku, mengejek, menghina karena aku hanya bisa jalan kaki tiap pulang sekolah, ditambah lagi ditemani dengan teman-teman dari sekolah kampungku. Tak ada yang bisa kulakukan saat itu, spontan bulir-bulir bening keluar dan menangis sejadi-jadinya! Bulir itu tak tertahankan meskipun aku telah sampai di rumah, dan tentu saja Ummi kaget mendapati aku dalam keadaan seperti itu.. Dengan umurku saat itu semua cerita keluar dengan spontan dari mulutku. Ummi bak pahlawan super, langsung menuju kerumah teman-teman "gedongku" dan memarahi mereka habis-habisan. Saat itu Ummi mengalahi pesona SUPERMAN, pahlawan super idolaku.

Cerita lain lagi yaitu ketika aku pulang sekolah, siang itu matahari terik dan seorang diri pula! Sekitar 200 m akan mencapai rumah tiba-tiba anjing tetangga yang terkenal galak lari mengejarku setelah mendengar nyanyian cemprengku untuk mengurangi sedikit lelah berjalan kaki mendaki gunung, walaupun setelah bernyanyi nanti hausnya bukan main... Jantungku serasa jatuh tiba-tiba setelah kulihat anjing itu lari sekencang-kencangnya seperti melihat makanan lezat untuk disantap karena tidur siangnya tiba-tiba diganggu dengan suara aneh yang berasal dari mulutku. Aku menangis sejadi-jadinya, mencari benda apa yang bisa membantuku tak ada satupun benda di dekatku yang kurasa bisa membantuku selain berpuluh-puluh pohon tinggi yang berada disamping jalan. Aku berusa berlari ke arah pohon-pohon itu sambil berteriak memanggil nama Ibu sejadi-jadinya, ya saat itu aku masih memanggil Ibu sebelum aku memanggilnya Ummi seperti sekarang. "Ibu!!!!!!!!". Karena jaraknya tak jauh dari rumah atau aku rasa yang paling mungkin adalah suaraku yang memang sangat "kencang dan lantang" berteriak akibat Anjing Sialan itu. Ummi jelas mengenali suara anak nya. Lari tak karuan kulihat Ummi ke arahku. Setelah tahu apa yang membuat suaraku lantang berteriak, Ummi mengambil kayu panjang disampingnya dan mengejar dan memukul anjing itu sejadi-jadinya! Humph, rasanya lepas beban melihat itu. Aku yang telah bersiap memanjat pohon penolong, lari terbirit-birit ke arah Ummi dan memeluk erat dan habis-habisan menceritakan sambil menangis sengakngukkan...

You are my Hero Mom! I Love You!

.........................................................................................

Humph setelah kulewati separuh malamku menggigil kedinginan seperti saat seorang penyelam kehilangan panas tubuhnya karena pakaian pelindung yang dipakai tidak sempurna dalam penyelamannya, panas tubuhku melompat naik ke tingkat lebih tinggi dan enggan turun malah semakin naik...

Kedinginan setengah mati lalu terasa panas luar biasa, kondisi ini ku alami hampir 1 minggu lamanya.. Di perparah lagi dengan tambahan sakit perut, yang menggenapkan "sakit" ini hampir 2 minggu... Wuih! Mungkin kalau hanya nyeri di bagian perut, masih bisa ditangani. Misalnya dengan minta tolong diusapkan campuran bawang merah dan minyak gosok atau berusaha menghubungi nenek "dato" meminta "mantra" mengobati sakit perut yang asli "bahasa mangkasara" dan rumit untuk diucapkan. Tapi kalau masalahnya adalah "bolak balik" ke "water closet" itu adalah masalah besar!

Akhirnya, saat ini alhamdulillah telah kembali fit dan dapat duduk depan komputer dan mem posting ini. Sakit!!! Beribu hikmah dari hal ini. Semua hal baik terlihat pada prosesi ini. Dan semua harapan baik terwujud, dimanja Ummi dan Abah, meminta makanan apapun yang kita mau walaupun tetap tak enak untuk turun melewati indera perasa yang sedang mengalami "masalah kepahitan", dijenguk oleh saudara dan kawan serta yang tidak ketinggalan mendapati sms dengan bunyi "Kesehatanmu Adalah Nafas Hidupku!".. he2.. TAPI! Satu harapan baik yang tidak tercapai dengan maksimal, LANGSING! but it's ok, Nature Overdid a Good Thing, RIGHT? he2... Ehmmm Terimakasih Ummi, Selalu ada disampingku dan memberikan Doa-Doa terbaikmu.


Di doa Ibuku namaku di sebut
Di doa Ibu ku dengar ada namaku di sebut
Ada namaku di sebut

Sunday, January 06, 2008

Happy New Year!

Ups.... Terlambat lagi untuk mengucapakan ini. Tapi akan tetap Vy ucapkan... Pergantian tahun selalu memberikan harapan baru buat Vy dan mudah-mudahan kita semua..... Semoga Sukses dalam Karir, Hidup dan semua keinginan...

Nb: Thanks Buat >>><<< sudah meluangkan waktu!

Wednesday, December 26, 2007

New Capture From Barrang Lompo....

Pict 1: Pict 2: Pict 3: Pict 4:

On The Third Anniversary Of The Indian Ocean Tsunami, Habitat For Humanity’s Programs On Track To Provide 22,000 Families With Permanent Housing

Opportunity: Women from Chinnakottakuppam village,
near Pondicherry, India, making building
blocks out of clay using machinery and training provided by Habitat’s post-tsunami program

BANGKOK, December 21, 2007: Three years after the world’s attention was focused on the massive destruction caused by the deadly Indian Ocean tsunami, Habitat for Humanity continues to meet the challenges of rebuilding the homes, lives and communities of survivors and their families. Habitat for Humanity programs in India, Indonesia, Sri Lanka and Thailand are on course to ensuring that an estimated 19,000 families will have permanent, safe, secure housing by the end of 2008, rising to 22,000 by the middle of 2009 – at the expected completion of Habitat’s post-tsunami reconstruction response.

“Habitat for Humanity’s commitment to the reconstruction effort has deepened as the years have passed since that terrible day in December 2004,” said Jonathan Reckford, chief executive of Habitat for Humanity International. “Rebuilding viable communities takes planning, careful implementation and, most of all, time. We would like to thank our donors, volunteers and supporters from all over the world who continue to support our work in hundreds of communities even as the world’s headlines are taken up with new calamities.”

To date more than US$50,000,000 of donors’ funds have been spent, and millions more are earmarked for continuing projects and new programs. As of November 2007, Habitat and its partners had built, repaired, rehabilitated houses and provided other assistance for approximately 13,500 families. According to Rick Hathaway, vice-president for Habitat’s Asia-Pacific operations, “The tempo of our response has continued to be strong throughout 2007 as the capacity and expertise we have built in India, Indonesia, Sri Lanka and Thailand have begun to be fully felt.”

He emphasized that the cornerstone of Habitat’s response continued to be a community-based disaster response model which enlists the participation of affected families and leaders in the community in which they live. “Wherever possible, new homes are located within existing villages or neighborhoods, sometimes on the same, albeit strengthened, foundations of former dwellings. That is what people want. It avoids breaking up communities and prevents families drifting deep into poverty.” “Working together ensures that we find housing solutions that meet real needs, be it shelter, or construction-related training and employment opportunities or through disaster mitigation programs,” said Hathaway.

For families a safe, secure permanent home means the end of years of living in temporary accommodation, perhaps staying with relatives, or staying in dangerous or dilapidated parts of their old tsunami-damaged properties. The most complicated Habitat program is in Aceh, Indonesia, where the isolation and the extent of the damage wrought by the tsunami have added to the challenges of rebuilding. To date more than 5,000 families have been assisted has been served by the project. Habitat for Humanity’s approach and work, which also involves water-related projects, has been publicly praised by, among others, Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi, the government’s reconstruction agency. The two bodies are discussing collaborating directly in developing new sites. In India, Habitat for Humanity’s tsunami-reconstruction initiatives has helped more than 5,300 families with new homes and the rehabilitation and repairs of existing dwellings. And the pace of activity is increasing. Working from the main resource center in Chennai and technical offices in Madurai, Pondicherry and Vijayawada, Habitat and its partner organizations are building about 300 new homes each month, and repairing a further 80 other properties.

In addition a new disaster mitigation and preparedness program launched in November is expected to benefit 7,500 families living in coastal areas around Pondicherry. The program teaches families how to strengthen their homes and how to react in the face of threats from future flooding, landslides earthquakes and other disasters. In Sri Lanka, Habitat for Humanity is on course to build more homes than in 2006. More than 2,200 new homes have been built to date: an estimated 1,000 of them are expected to have been built by year’s end in spite of continuing security issues.

Habitat for Humanity Thailand has completed assisting more than 600 households affected by the tsunami in the provinces of Phuket, Phang-Nga, Ranong and Krabi. A Habitat resource center has assisted a further 400 families through employment opportunities, using alternative technologies to produce construction materials, and with housing microfinance services. The national organization has now established a regular Habitat program supported by the local authorities and partners to assist local families requiring safe, secure, affordable homes.

Habitat for Humanity uses its community engagement model in its response to natural disasters throughout the Asia-Pacific region. Habitat has recently responded to flooding and cyclones in Bangladesh, the tsunami-hit Solomon Islands, communities in Pakistan and Indonesia that were hit by earthquakes, as well as typhoon-affected parts of the Philippines.

Habitat for Humanity International

Sunday, December 16, 2007

Good Bye Babee...


Entahlah kenapa engkau satu-satunya lelaki yang menjadi "sahabat terbaik"
Kawan yang pertama ku ingat pertama kali ketika suka dan duka datang
Humph.... Kawan yang entah lah... bagaimana mengungkapkannya
Terimaksih buat pinjaman pundakmu ketika jiwa berada di titik nadir
Terimakasih buat pelukan hangat ketika airmata tak terbendung

Good Luck ya buat hidup dan Karir!

Thursday, December 13, 2007

Sunday, December 09, 2007

My Favorite Picture

Pict 1: Pict 2: Pict 3:

Tuesday, December 04, 2007

WORLD AIDS DAY 2007

"Stop AIDS, Tepati Janji"

Friday, November 23, 2007

Climate Change - Emergency On Earth

Take action for climate change. NOW!
You Control Climate Cnhange


TURN DOWN.SWITHCH OFF.RECYCLE.WALK.CHANGE

Tahukah anda?

1
Setiap tanggal 16 September, masyarakat Bumi memperingati hari ozon, namun penipisan lapisan ozon masih terus berlangsung. Dampak penipisan lapisan ozon antara lai
n meningkatnya intensitas sinar ultra violet yang mencapai permukaan Bumi dapat menyebabkan gangguan terhadap kesehatan, seperti kanker kulit, katarak, dan penurunan daya tahan tubuh, dan bahkan terjadinya mutasi genetik. Menipisnya lapisan ozon mengakibatkan terjadinya degradasi lingkungan, keterbatasan sumber air bersih, kerusakan rantai makanan di laut, musnahnya ekosistem terumbu karang dan sumber daya laut lainnya, menurunnya hasil produksi pertanian yang dapat mengganggu ketahanan pangan, dan bencana alam lainnya. Mata rantai dampak penipisan lapisan ozon berikutnya adalah terjadinya pemanasan global (global warming). Gas karbon dioksida (CO2) memiliki kontribusi paling besar sekitar 50 persen, diikuti chloroflourocarbon (CFC) 25 persen, gas methan 10 persen, dan sisanya gas lain terhadap pemanasan global.

Munculnya kembali penyakit mendunia seperti malaria dan TBC yang diakibatkan oleh pemanasan global. Nyamuk aedes aegypy sebagai vektor penyakit malaria dapat berpindah dan berkembang biak dari Afrika ke Eropa. Pemanasan global juga menyebabkan mencairnya lapisan es di Benua Antartika. Akibatnya, muka air laut global naik sampai 25 cm di akhir abad 20. Sehingga terjadi ketidakseimbangan iklim, dimana suatu tempat terjadi bencana kekeringan, dan ditempat lainnya terjadi bencana banjir. Kerugian dunia mencapai 300 milyar dollar AS per tahun akibat dampak perubahan iklim dan berkurangnya kemampuan hutan sebagai penjerap karbon (carbon sink) karena 65 juta hektar dari 3500 juta hektar hutan punah pada periode tahun 1990-1995. Ternyata mengurangi emisi gas rumah kaca saja tidak cukup akan tetapi kita hatus bekerja untuk menghapuskan emisi gas rumah kaca. Namun, ancaman bencana ini cenderung diabaikan. Kenyataan menunjukkan, jumlah pencemaran gas rumah kaca dari tahu ke tahun terus meningkat. Slah satu jenis gas rumah kaca, yakni CO2 emisinya terus meningkat dari tahun 1990 sebesar 1,34 milyar ton, dan pada tahun 1997 sebesar 1,47 milyar ton.

Sumber utama CO2 dari 30 negara maju saja, yang berpenduduk 20
persen dari penduduk dunia menyumbang dua pertiga emisi salah satu gas rumah kacatersebut. Sedangkan negara berkembang yang berpenduduk 80 persen dari penduduk dunia menyumbang sepertiga emisi CO2. Dari sektor transportasi di AS saja emisi CO2 lebih besar dari total emisi dunia di sektor tersebut. Sepanjang abad ke-20, terjadi 10 kasus tahun terpanas hanya dalam kurun waktu 15 tahun terakhir. Tahun 1998 tercatat sebagai tahun terpanas di abad ke-20, yang berdampak terjadinya kebakaran hutan di Indonesia, Brasil, Australia atau negara lainnya dan kemarau panjang yang emusnahkan panen seperti di Afrika, serta bencana iklim lainnya akibat fenomena EL-Nino.

Intergovernmental Panel On Climate Change (IPCC) memprediksi kenaikan temperatur mencapai 2,5 samapi 10,4 dearjat Celcius sampai periode seratus tahun mendatang dan mengindikasikan bahawa akan terjadinya kenaikan permukaan air laut setinggi 1 meter pada tahun 2008. Daerha yang rawan terhadap dampak ini terjadi di Asia Selatan, Asia Tenggara, sepanjang pantai selatan Mediterania, pantai barat Afrika, dan terumbu karang di Lautan Indonesia dan Pasifik. Lapisan ozon berfungsi melindungi bumi dari sinar ultra violet yang dipancarkan oleh matahari. Menipisnya lapisan ozon diketahui pada pertengahan tahun 1980-an. Penipisan lapisan ozon disebabkan oleh penggunaan bahan-bahan kimia sebagai bahan perusak lapisan ozon (ozone depliting substance) dan gas CO2 yang dapat berasal dari hasil proses pembakaran seperti dari kendaraan, pabrik, dan kebakaran hutan.

2

Kerusakan hutan di Indonesia mencapai 3,8 juta hektar setahun ini. Ini berarti semenit 7,2 hektar yang rusak. Jika masih terus terjadi dan tidak dihentikan, mak hutan dataran rendah di Sumatera akan habis pada tahun 2005. Juga dataran rendah di Kalimantan akan habis pada tahun 2010. Minyak pun, tidak akan bertahan dalam waktu 10 tahun. Selama 1985-1997, kerusakan hutan di Indonesia mencapai 22,46 juta hektar. Artinya, rata-rata mencapai 1,6 juta hektar per tahun. Ada empat faktor penyebab kerusakan hutan itu: penebangan yang berlebihan disertai pengawasan lapangan yang kurang, penebangan liar, kebakaran hutan dan alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian atau pemukiman.

3
Protokol Kyoto adalah sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global. Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran kar
bon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam perdangangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas0gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global. Jika sukse diberlakukan, Ptokol Kyoto diprediksi akan mengurani rata-rata cuaca global antara 0,02 derajat celcius dan 0,28 derajat celcius pada tahun 2050.

FLIP YOUR PERSPECTIVE
YOU CAN MAKE A DIFFERENCE

A BIG SALUT buat semua kawan-kawan yang berkerja keras sehingga ACARA EARTH CARE ini dapat terlaksana.



Office: Marine Building Kampus UNHAS Tamalanrea
Jl. Perintis Kemerdekaan KM. 10 Tamalanrea Makassar 90245
earthcare@telkom.net