Tuesday, July 15, 2008

Miss Your Shoulder...

14 juli 2008 - 00.05 am

.....sadness

Terimakasih untuk ada malam ini, terimakasih untuk setiamu mendengarkan gelisah, gundah, dan desahku. Yang dalam menandakan betapa berat saat-saat ini kulewati... Entah apa itu, yang aku tahu hanyalah ini membuatku jatuh tersungkur di "bukau" asing yang jauh sekali hingga aku tak tahu dimana dapat kutemukan jalan pulang.. Engkau yang terbaik untuk saat-saat ini, seorang lelaki dengan label "sahabat baik".

I miss your shoulder to cry on again babee

Wednesday, July 09, 2008

Romantisme bersama Nenek Dato

Jene'ponto - Sabtu 28 Juni 2008

.....gelap

Sudah hampir sebulan, di desaku -Batusaraung, Tamalatea- mendapat giliran pemadaman lampu jika menjelang magrib hingga selepas isya, sekitar jam 8 jadi bisa kurang atau lebih dari 2 jam.

Ditemani telepon genggamku -tampak tua- yang mengalunkan lagu-lagu ebiet g ade -......gemuruh ombak di pantai kuta sejuk lembut angin di bukit kintamani gadis-gadis kecil menjajakan cincin tak mampu mengusir kau yang manis....- juga segelas "black coffee" duduk di teras rumah panggung Nenek Dato - masih kokoh, walau telah berpuluh tahun umurnya -

Angin bermain-main, berlarian di antara daun-daun pohon mangga besar tepat di depan rumah Nenek Dato dan menimbulkan suara indah yang membuatku sangat merindukan pantai, iyaaa pantai.... Membayangkannya membuatku merinding. Aku sangat merindukannya. Really miss that moment.

Bintang-bintang terus bermain mata kepadaku, jumlahnya... entahlah... mungkin ratusan, ribuan, puluhan ribu atau... seperti jumlah rindunya seseorang yang tengah kasmaran dengan kekasihnya. INDAH!

Uhmmmm sejam berlalu... perasaan menjadi "masygul" juga. Entahlah, sendiri membuatku mengingat hal-hal yang seharusnya sejak dulu sudah kulupakan... Perasaan yang mengharimaukan jiwa.. huhhh.... dan mulai merindukan seseorang yang seharusnya tidak di rindukan.

Akhirnya, aku memilih tempat aman... Berbaring di samping Nenek Dato dan menjadi teman bercerita yang menyenangkan -entry MANGKASARA zone- :). Sejak menetap di desa ini -serumah dengan Nenek Dato- kerinduanku untuk mendapat buaian kasih seseorang Nenek terobati sudah. Berpuluh tahun....

Sinar redup lilin, rebah di "anyaman pandan", desir angin, dan suara "merdu" nenek menceritakan masa kecil Ummi dan sosok Almarhum Kakek serta sentuhan jari-jari tua Nenek Dato yang kasap di rambutku, membuatku terbuai, menidurkan segala resah jiwa. ROMANTIC MOMENT....

Saturday, July 05, 2008

- H E -

Pict 1: Pict 2: Pict 3:

Monday, June 02, 2008

Di Angkutan Umum Itu...

Uhhhmp... akhirnya BACK TO THE CITY, Kembali dapat merasakan betapa nikmatnya ber-internet ria, menjelajahi dunia dan kembali bisa berinteraksi dengan kawan-kawan yang nun jauh di sana.

Yang ada untuk mengisi blog ini -yang jarang sekali di update, hanya pada saat aku mendapatkan jaringan internet- adalah tetap cerita keseharian ku di pelosok desa di Kabupaten Jeneponto. Cerita yang setiap harinya berbeda dan menarik. Cerita yang kadang kukemas menjadi oleh-oleh indah untuk Ummi dan Abah, yang membuat Ummi dan Abah tersenyum indah. Sepertinya bukan karena cerita ku, tapi karena caraku beradaptasi terhadap lingkungan baru yang sama sekali berbeda dari kehidupan-kehidupanku sebelumnya. Tapi itu bisa membuat ku bangga pada diriku sendiri, bertambah lagi momen-momen pembuktian diriku pada orang tua kalau anak semata wayang pun bisa menjadi mandiri.

Pekan ini cukup menyenangkan buatku, sekali lagi kudapatkan pengalaman-pengalaman istimewa dari perjalananku. Di pagi itu, masih dengan ojek langganan menuju ke perhentian angkutan umum di jalan poros kabupaten. Cerah sekali, dengan pemandangan khas pedesaan, orang-orang menuju ke ladang, bukan lagi menanam atau memanen padi -karena musimnya sudah lewat- tetapi untuk mengisi ladang mereka dengan memanen jagung di musim kedua ini. Asyik sekali memandangi keserasian alam pagi ini, embun pagi di ilalang yang hijau segar, anak-anak gembala tertawa riang bersama kuda dan kerbau mereka serta senandung indah -lagu mangkasara- dari mulut tukang ojekku... Lengkap sudah pagi ini. INDAH.

Sesampai di perhentian angkutan umum, tak lama aku harus menunggu. Tidak jika matahari akan tenggelam -aku bisa menunggu hampir sejam-, angkutan umum di setiap pagi tak sulit karena akomodasi utama yang digunakan pedagang yang menuju pasar besar Kota Jeneponto di daerah ibukota kabupaten.

Humphhh, angkutan umum yang kunaiki pagi ini luar biasa sesaknya dan aroma yang bercampur aduk. Lengkap macam-macam pedagang di dalamnya. Pedagang sayuran, pedagang beras dan pedagang ikan. Pedagang ikan itu tepat di depanku, dengan tiga keranjang penuh ikan basahnya. Syukurnya aku terlatih untuk mencium bau amis itu sejak kuliah dulu serta cara mengatasi agar tak membuat mual.. Kalau tidak mungkin semua sarapanku pagi ini akan kumuntahkan keluar. Percakapan menarik terjadi diantara pedagang-pedagang itu, mulai dari persoalan pribadi, kenaikan BBM, harga bahan-bahan pokok di pasar serta kompetisi pencarian bintang dangdut baru KDI. Emosi dan kepolosan bercerita serta penggunaan bahasa mangkasara –yang kadang-kadang terlalu kasar kedengarannya- membuat ekspresi mereka ISTIMEWA buatku.

Tiba-tiba Ibu pedagang ikan menegur dan menanyakan tempat tinggal ku, saatnya kupergunakan bahasa mangkasaraku yang masih dalam taraf belajar ini. Percakapan selanjutnya adalah tentang silsilah keluarga –salah satu kebiasaan orang makassar yang mungkin di beberapa daerah lain juga seperti itu, alasan utamanya yaitu untuk mengetahui apakah termasuk anggota keluarga atau tidak- akhirnya membawa percakapn jadi “nyambung banget”. Ternyata walau hubungan kekerabatan yang sudah sangat jauh, tapi bagi orang-orang di daerahku “berarti” sekali. Sesaat sebelum aku sampai di tempat perhentianku –menuju kantor- Ibu pedagang ikan mengambil kantong plastik ukuran besar dan memenuhinya dengan ikan segera diberikannya kepadaku. RAMAH SEKALI. Tapi masalahnya adalah aku sedang dalam perjalanan menuju kantor dan bukan perjalanan pulang dari kantor. Jadilah hari itu aku membawa sekantong ikan ke kantor sampai jam pulang. Hehe pengalaman luar biasa lagi kudapatkan dan menjadi koleksi bunga-bunga hidupku.

Wednesday, May 07, 2008

- S H E -

Pict 1: Pict 2:

Monday, April 28, 2008

Capture Of Me

Posting kali ini agak sedikit "narsis"... tapi yang Vy suka adalah momen nya. But Sometimes i have to publicate my self, right? Gak tau, akhir-akhir ini Vy lebih suka mengedit foto dengan themes "oldies" like sephia tone dengan sharpen tinggi... I really like the tone...

Pict 1:Pict 2:

Nice Weekend

Akhir Pekan Sabtu – Minggu.
12 - 13April 2008

Selepas subuh –Sabtu- seperti biasa aku asyik menikmati "Black Coffea" hangat di teras rumah panggung Nenek Dato –rutinitas yang selalu kulakukan di tiap akhir pekan jika menetap di sini dan tidak ke kota Makassar-. Duri-duri dari dingin pagi itu menusuk hingga ke tulang, menggigit -selalu seperti itu di tiap musim pancaroba, dinginnya luar biasa kata Nenek Dato-. Tapi pemandangan aktifitas pagi hari di pelosok desa -Jeneponto- ini terlalu menarik untuk dilewati. Apalagi pada hari pasar seperti ini dan musim panen Jagung dan Padi. Aktifitas masyarakat yang akan pergi ke pasar atau untuk pergi ke ladang dan sawah di pagi buta ini.

Bulu kudukku tiba-tiba merinding –bukan karena dingin tadi- tapi karena pemandangan yang tiba-tiba tersaji di hadapanku. Satu keluarga petani –lengkap- dengan peralatan bertani dan rantang makanan yang tampak usang –yang di dalamnya terdapat bekal makanan-. Sang ayah memimpin ekspedisi sambil menuntun 2 kuda di belakangnya, Ibu menggendong anak paling bungsu –perkiraanku sekitar 4 tahun-, dan dua kakak si bungsu di belakangnya, keduanya mendapat tugas membawa rantang usang itu dan ember besar berisi air minum. Samar-samar aku mendengar pembicaraan mereka tentang pengalaman sang Ayah kemudian diikuti tawa anggota keluarganya. MESRA sekali. Sekali lagi aku merinding, senyum lebarku tak tahan untuk terus di kulum dan perasaan iriku tak terbendung... Ehmmm... Lagi, aku mendapatkan momen indah.

Nenek Dato datang dan duduk tepat disampingku dengan segelas teh ditangannya. Pembicaraan dalam bahasa “Mangkasara” pun terjadi –lagi, kebisaanku bahasa Mangkasara di latih he2-. Nenek dato berbicara panjang lebar tentang adat istiadat dan akhirnya tentang berapa luas sawah yang Nenek Dato miliki. Diterangkan begitu jelas dimana lokasinya kepadaku, humph... entah untuk apa, tapi sedikit membantuku mengurangi kebutaanku soal lokasi-lokasi kampung di pelosok Jeneponto ini.

Ajakan menarik datang dari Nenek Dato. Karena padi Nenek Dato juga telah memasuki masa panennya, aku diajak untuk jalan-jalan ke sawah dan melihat proses panen itu. Tawaran yang sangat sayang untuk dilewati. Aku sudah sering melihatnya di televisi atau di buku-buku cerita anak-anak tentang “memanen padi” tapi untuk melihat langsung dan mencoba sama sekali pemgalaman baru. Kata Nenek Dato aku "WAJIB" memakai baju lengan panjang, kaus kaki, penutup mulut agar nanti tidak di serang gatal-gatal karena terkena gabah padi atau digigit binatang-binatang kecil yang gatal.


Tak butuh waktu lama untuk bersiap-siap diri, juga tak butuh mandi pagi dulu sebelum pergi ke sawah, toh akan kotor juga setelahnya... Sepanjang perjalanan menuju sawah Nenek Dato, aku melewati banyak sawah yang juga telah tiba masa panennya. Aku bertemu dengan keluarga –lengkap- tadi sedang mengerjakan salah satu sawah Nenek Dato. Mereka adalah keluarga yang dipercayakan untuk mengurus sawah Nenek Dato dengan sistem bagi hasil. Banyak juga keluarga lain yang mengerjakan sawah di sebelah Nenek Dato, rata-rata mereka adalah keluarga yang tinggal sekampung denganku jadi tawaran untuk singgah dan menyantap makan siang di sawah dengan lauk dan sayur "fresh" di masak di sawah sahut menyahut... Ehmmm gawat juga, kalau tawaran semuanya diladeni badan ku yang sebelumnya sudah "bengkak" tampaknya akan menjadi tambah "bengkak" he2... Dengan sopan -seperti ajaran Nenek Dato- aku selalu berkata "Terimakasih Karaeng" -kata penolakan yang paling sopan-.

Sesampai di sawah, bekal "sabit" yang diberikan Nenek Dato langsung aku gunakan untuk belajar mengait padi -dengan arahan sepupu- yang menguning. Tidak susah, tapi harus tetap hati-hati jangan sampai sabit yang tajam itu sampai mengenai tangan, bisa terputus katanya. Sekali dan dua kali masih terlalu kaku tapi setelahnya semuanya jadi lancar.... Beres! Nenek Dato yang sedang mengamati duduk di bawah pohon asam tertawa terbahak-bahak melihat kekakuanku. Nenek Dato di usianya sudah tidak mungkin untuk terjun langsung memanen padi, jadi menyerahkan segala urusan persawahan kepada orang yang telah dipercaya.

Waktu yang biasa di habiskan untuk memanen padi di satu sawah adalah dua hari. Hari pertama digunakan untuk mengait batang-batang padi, dan hari kedua untuk memisahkan butir-butir padi (gabah) dari tangkainya. Dua hari juga aku ikut dengan Nenek Dato ke sawahnya. Humphhh... ku hitung hanya sekitar 8 jam dalam 2 hari yang kuhabiskan untuk sekedar belajar semuanya, tapi rasanya ingin remuk saja semua badanku. Bisa kubayangkan mereka yang menghabiskan 10 jam sehari dalam seminggu atau satu bulan... Menurutku itulah hidup, terus berjuang untuk sesuatu yang lebih baik.


Lagi, selalu ada momen-momen indah untuk ku “CAPTURE”. Indah, entahlah apakah indah juga dari sisi “FOTOGRAFI”.
Pict 1. Pict 2.Pict 3.

Sunday, April 06, 2008

Di Ladang Jagung...

Kamis, 27 Maret 2008...

Hari ini tak ada niat untuk ke kantor. Ehmm sudah di niatkan sih dari hari sebelumnya, karena ada tawaran menarik dari tante untuk jalan-jalan ke ladang jagungnya karena sudah tiba masa panennya. Kesempatan baik untuk memvariasikan rutinas -perjalanan 30 km pulang pergi rumah dan kantor- . Alasan lainnya yaitu aku ingin sekali mendapatkan pemandangan pegunungan dengan hijau terhampar sekaligus "hunting foto", rasanya lama sekali tidak menjalankan hobi satu ku ini. Sekarang, rasanya tak ada yang indah dari hasil "jepretanku", HERAN! Apa karena sudah terlalu lama tidak melakukan aktifitas ini.

Pagi sekali, tepat setelah selesai melakukan sholat Subuh segala persiapan telah dilakukan tante untuk menuju ke ladang. Semua yang menyangkut perut harus utama bukan? he2. Aku, menyiapkan teh hangat untuk kubawa, dua bungkus kopi instant, buku bacaan, dan kamera pocket ku.. Lengkap! Setelahnya tinggal menyiapkan tenaga menuju ladang yang di atas bukit kurang lebih 6 km.

Pengalaman menarik buatku, belajar memanen jagung. Berjalan di tengah-tengah pohon jagung mengambil tongkol jagung ditengah rerumputan yang tingginya melebihi manusia bukan hal yang gampang. Resikonya, ya bertemu dengan makhluk-makhluk aneh, gatal-gatal diseluruh badan karena bulu-bulu halus jagung kuning, dan hitam karena begitu panasnya matahari menyengat kulit. Menyenangkan sekali untuk aku, yang ini adalah pengalaman pertama. Pelajaran selanjutnya adalah mengupas kulit jagung dan memipil bijinya. Mudah memang, tapi hasil yang di dapat setelahnya adalah pegal luar biasa di jari-jari tangan dan itu terjadi padaku. Jaminan 48 jam, sakitnya tak hilang. He2.

Aku sering sekali mendengar cerita dari Ummi, Abah atau dari sepupu-sepupu ku kalau menikmati makan siang di ladang atau sawah adalah hal yang luar biasa nikmatnya. Apapun lauknya semua terasa nikmat. Itu yang aku buktikan di perjalananku ini. Hasilnya, ehmm memang nikmat luar biasa, walaupun hanya dengan lauk ikan bandeng kuah santan dan ikan goreng serta sayung kacang hijau dicampur daun kelor segar yang langsung diambil dari ladang. Benar, jauh melewati nikmatnya makanan mahal. Ditambah dengan suasana pedesaan, pemandangan hijau ladang dan persawahan dan duduk di bale-bale, tepat di tengah ladang jagung. Ahhhhh suangguh luar biasa.

Pict 1:
Pict 2:Pict 3:
Pict 4:Pict 5:
Pict 6:Waktu tak terasa terus berjalan, dihabiskan di tengah ladang jagung. Berkumpul bersama sepupu, tante dan om dan candaan menarik. Hampir magrib, aku dan yang lainnya meninggalkan ladang jagung itu. Kembali ke rutinitasku...

Saturday, April 05, 2008

Melepas Kangen...

Sebulan lebih tidak mengupdate blog ini... Kangen sekali rasanya... Kesibukan luar biasa (sibuk??!!) he2 sedikit sibuk kok, akhirnya tidak bisa lebih sering ke Makassar dan mendapatkan akses internet. Alhamdulillah semuanya berjalan baik di tiap-tiap harinya, juga berkembang dengan baik walaupun ada sedikit hambatan, tapi kan bukan hidup kalau di beberapa kali waktu per tapakan kaki hidup itu tak ada cela... Yang membuat aku semakin kuat menghadapi hidup...

Hampir 70 hari keberadaanku di pelosok desa ini, proses adaptasi menjadi salah satu bahan renunganku tiap tengah malam ketika mata akan terlelap. Apa yang telah aku lakukan hari ini, bagaimana sosialisasiku hari ini dengan orang-orang yang aku temui, apakah gaya bicaraku tidak dianggap "kurangajar", apakah tatapan mataku tidak dianggap terlalu meremehkan... Humph... Terlau banyak rasanya hal-hal... Juga sama halnya ketika aku di makassar, tapi disini semua menjadi EKSTRA. Semuanya harus dipikirkan dengan EKSTRA.

Sejak 7 tahun lalu -ketika aku meninggalkan tanah kelahiran tercinta dan hidup menetap di Makassar- "Nenek Dato" banyak bercerita tentang adat istiadat Makassar -terutama Jeneponto-. Tentang bagaimana harus bersikap ketika bersosialisasi dengan orang-orang Jeneponto -tempat kelahiran Ummi dan Abah-. Terutama ketika memanggil nama mereka apakah harus didahului dengan kata DAENG atau KARAENG. Humphhh... Hal yang sampai hari ini masih sulit untuk ku kerjakan, buat aku yang jarang "pulang kampung" dan menghabiskan 8 tahun "bergaul" di makassar dan lebih banyak menggunakan kata umum IBU atau BAPAK bukan DAENG atau KARAENG. Dan banyak lagi hal-hal yang saat ini harus betul-betul kupelajari dan kupraktekkan baik-baik, jika tidak ingin menjadi bahan pembicaraan di kampungku -pelosok desa di Jeneponto- atau bahkan menjadi pembicaraan lintas kampung he2..

Sampai saat ini, dalam proses belajarku menghadapi budaya, adat istiadat dan aturan hidup di pelosok desa Jeneponto, aku telah menemukan irama yang mulai asyik kujalani. Hariku semakin teratur untuk kujalani, dengan warna-warna menarik... Pagiku dimulai sangat pagi disini -jauh berbeda ketika di Makassar dulu- adzan mesjid yang berada tak jauh dari rumah panggung Nenek Dato menjadi alarm tanda bahwa aktifitasku mulai dikerjakan. Bangun pagi, kalau sempat dan tidak diserang oleh udara dingin yang menggigit tulang, aku berjalan ke masjid melakukan shalat Subuh. Setelahnya adalah bersiap-siap menuju kantor. Jam 7 tepat aku harus menunggu ojek ketempat perhentian angkutan umum.

Salah satu hal yang kusyukuri ketika harus menaiki ojek atau angkutan umum. Banyak mengenal orang baru setiap harinya, belajar bersosialisasi dengan bahasa daerah "MANGKASARA" -hal yang masih begitu ganjal bagiku-. Oh ya juga yang menjadi favoritku yaitu jika aku selalu bisa mendapatkan hal-hal menarik di sepanjang perjalananku untuk di "CAPTURE" menjadi hasil dari "HOBI FOTOGRAFI". Pernah suatu kali, siang hari, bayangkan saja siang hari di tengah pelosok desa Jeneponto yang luar biasa terkenal "PANASnya". Rasa panasnya menembus ke ubun-ubun kepalaku hingga menimbulkan sakit yang luar biasa -tak terhankan- hingga obrolan asyik sang tukang ojek tentang silsilah turunan Bangsawan di Jeneponto menjadi sangat membosankan untukku... Ketika kepalaku seperti ditusukkan oleh duri-duri kaktus, aku melihat keramaian di depanku. Tukang ojek memberhentikan motornya..

"Ngapa i karaeng?" (Ada apa Pak?)
Tanyaku kepada tukang ojek itu.

"Nia tau molong bembe Karaeng. Tau ni hakika kapang."
(Ada orang potong kambing. Orang acara aqiqah mungkin)
Jawabnya, sambil mendongakkan kepalanya untuk melihat lebih jelas.

"Naung a rong paleng di', ero' ka acciniki."
(Saya turun dulu kalau begitu, saya mau lihat)
Secepatnya kukeluarkan kamera dari dalam tasku. Menarik buatku.

Pict 1:Pict 2:Hidup... Hanya perlu dinikmati. Hal yang sekarang begitu kunikmati. Bahkan sangat kunikmati.

Tuesday, March 04, 2008

Kelaparan, Ibu Hamil dan Anaknya Tewas

01/03/2008 18:14 Kasus Kelaparan
Kelaparan, Ibu Hamil dan Anaknya Tewas


Liputan6.com, Makassar: Besse yang tengah hamil tujuh bulan bersama Bahir (lima tahun), anaknya, Sabtu (1/3), meninggal setelah menderita kelaparan akibat tiga hari tidak makan. Sedangkan Sari dan Aco, dua anak korban yang lain, masih bisa diselamatkan.

Belum ada pernyataan secara medis yang menjelaskan warga Jalan Daeng Tata I itu meninggal akibat kelaparan. Namun keterangan Aisyah, tetangga Besse, menguatkan kondisi ekonomi keluarga Basri, suami korban yang berprosesi sebagai tukang becak, memang sangat memprihatikan. Sebab untuk makan saja mereka terkadang harus meminta kepada tetangga.

Kusuma Wardani, ahli gizi Dinas Kesehatan Makassar, mengakui tewasnya Besse serta anaknya karena kelaparan sebagai preseden buruk. "Masalah kelaparan ini bukan hanya departemen kesehatan saja yang menanganinya, tetapi ada beberapa instansi terkait," kata dia. Yang pasti, kondisi ini sangat ironis dengan predikat Sulawesi Selatan sebagai lumbung pangan

Syamsu Rizal, anggota DPRD Kota Makassar yang menangani masalah kesejahteraan masyarakat, geram mendengar ada warga Makassar yang meninggal akibat kekurangan pangan. "Ini sebagai kejadian memalukan yang menjadi tamparan bagi pemerintah kota dan seluruh masyarakat Kota Makassar," tutur dia.

Syamsu menuding kasus ini diakibatkan tidak adanya koordinasi dari instansi-instansi yang menangani kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, dia bertekad akan segera membawa masalah ini ke rapat dewan. Sementara itu, jenazah Besse dan Bahir hari ini telah dipulangka ke kampung halamannya di Kabupaten Bantaeng untuk dimakamkan.(BOG/Iwan Taruna dan Rizal Randa)

Sunday, March 02, 2008

Begitu Sulit Untukku

Tinggal jauh dari keramaian kota memang jauh lebih menyenangkan -seperti yang aku tulis di postingan -Dia Berlari meninggalkanku-. Sungguh jauh dari kebisingan dan polusi udara kota. Tapi satu hal yang membuat aku agak kewalahan tuk tinggal di pelosok desa ini.. Akomodasi yang begitu susahnya, membuat aktifitas yang aku akan kerjakan tertatih-tatih.

Jarak sekitar kurang lebih 15 km dari rumah untuk sampai dikantor, akan tidak menjadi masalah ditempuh kalau kondisinya sama seperti di ibukota Propinsi, akomodasi dan kondisi jalanan yang cukup nyaman. Di sini, di kota kecil ini semua serba sulit untuk ku. Sekitar 8 km jarak yang harus aku tempuh dengan ojek yang dalam waktu satu jam belum tentu ada yang melintas dan dengan kondisi jalanan yang amburadulnya luar biasa, aku tak tahu apa yang ada di dalam fikiran para pejabat-pejabat pemerintahan kabupaten ini pada saat membangunnya -apakah keinginan mengambil keuntungan lebih besar ketimbang rasa sayang kepada desanya sendiri- humph... lagi-lagi semuanya menyebalkan. Setelah 8 km itu kulewati, masih ada sisa-sisa kilometer lagi yang harus kulewati untuk sampai ke kantor, kali ini agak lebih baik karena merupakan jalanan poros lintas kabupaten...

Humphh.. tapi ya hingga akhir ini masih tetap bertahan... Walaupun rutinitas untuk mengupdate blog ini menjadi satu bulan sekali atau tidak sama sekali...

Saturday, February 16, 2008