Thursday, September 04, 2008

don't be sad ABAH

Tidak ada sesuatu yang dialami anak Adam dari apa yang diciptakan Allah lebih berat daripada kematian. Baginya kematian lebih ringan daripada apa yang akan dialaminya sesudahnya. (HR. Ahmad)

Pict 1: Pict 2: Pict 3: Pict 4:

Monday, August 18, 2008

... c a p t u r e ...

Nenek Dato

Perempuan tua yang luar biasa menginspirasiku bagaimana menjalani hidup. Kokoh, gigih dan lembut.

Brotherhood
Ehmmm melihat "capture" ini membuatku sangat menginginkan memiliki NYA.. Romantisme yang indah.

Petani Perempuan
Tak sengaja "capture" ini membuatku jatuh cinta.. Saat perempuan ini menjemur gabah padinya.

Tuesday, August 05, 2008

Di tengah Hujan

04.00 p.m - Jeneponto, .. July 2008

.. Hujan rintik, mendung dan sedikit cahaya matahari menyembul

Aku telah berada di perhentian ojek di daerah Tanetea, Tamalatea –salah satu kecamatan di Kabupaten Jeneponto- hampir setengah jam karena menunggu hujan reda. Aku bisa saja menerobos hujan dan menaiki ojek yang setia menemaniku di halte reot -yang atapnya bocor disana sini- untuk pulang ke rumah –Desa Batusaraung- . Tapi dinginnya udara membuatku berpikir panjang, juga membayangkan seluruh tubuhku kebasahan. Walaupun hanya hujan rintik, tapi perjalanan sekitar 25 menit dapat membuatku basah dengan sukses.

Di bulan-bulan ini yang aku tahu seharusnya Jeneponto telah menjadi seperti gurun, tandus dan kering. Tapi tahun ini, curah hujan masih tinggi yang harusnya memasuki musim kemarau dimana sebagian tambak di daerah pesisir Jeneponto -Kecamatan Bangkala, Bangkala Barat, Tamalatea dan Arungkeke- dipenuhi kristal-kristal garam. Sepertinya tahun ini menjadi tahun yang berat bagi petambak garam karena iklim tak bersahabat.

Tukang ojekku –Daeng Ngangka- yang sedang asyik bersiul, mendendangkan lagu “mangkasara” kesukaannya dengan tiba-tiba terhenyak kaget setelah membaca pesan singkat di telepon genggamnya.

“Mesti ki inne liba-liba lampa karaeng, a’ba lompo sike’de mami na rapi ki jambatang Ta’bing Jai” .
“Kita harus cepat-cepat pergi, banjir besar sedikit lagi mendekati Jembatan Tab’ing Jai”.


Ehmm aku menjadi was-was mendengarnya, memang bisa saja menimbulkan banjir besar mengingat sudah sejak pagi hujan rintik ini di Jeneponto. Salah saru daerah yang rawan terkena banjir adalah di Desa Ta’bing Jai, desa yang harus kulewati jika ingin sampai ke rumah.

Segera Daeng Ngangka mengeluarkan jas hujan dan diberikan kepadaku. Akhirnya aku pasrah juga kedinginan... Dari tempat perhentian ojek ke Desa Ta’bing Jai memakan waktu sekitar 10 menit, itu cukup membuatku kebasahan walau memakai jas pelindung hujan. Mendekati desa, sebelum jembatan besar Desa Ta’bing Jai aku melihat banyak pengendara telah memarkirkan kendaraan bermotornya dirumah-rumah penduduk.

“Iiii tala’ ki Karaeng, a’ba mi ri dallekang”
“Kita sudah terlamabat, banjir sudah ada di depan”

“Jari, tingkamma maki inne”
“Jadi bagaimana dengan kita?”

“Naung maki rolo Karaeng, nia’ ballana bijangku kantumae. Kanjo maki tayang sanggena mari a’bayya”
“Turun saja dulu, ada rumah keluarga saya disebelah situ. Disana saja kita menunggu sampai banjir berhenti”


Kuikuti langkah Daeng Ngangka yang sambil mendorong motor menuju rumah keluarganya ditengah hujan yang ukuran butirnya mulai membesar. Kurasakan hidungku mulai dingin seperti es... Humph... Fungsi hidungku mulai berkurang di kondisi seperti ini, hal yang sungguh menyiksa...

Aku menuju rumah yang tidak asing untukku, tidak saja karena jalan ini kulewati hampir tiap hari. Tapi, karena nenek tua yang mendiami rumah ini –yang selalu duduk di teras rumah panggungnya, ditempat yang sama dan di waktu yang sama, juga selalu tersenyum padaku ketika aku melintas-. Entahlah setiap momen itu membuatku merasa nenek itu tidak asing buatku, walau aku tak mengenalnya secara langsung.

Saat Daeng Ngangka memarkirkan motornya di bawah rumah panggung, aku disuruhnya untuk naik ke rumah terlebih dahulu, namun enggan kuturuti karena aku tak mengenal sang pemilik rumah. Aku berdiri di tangga rumah menunggu Daeng Ngangka. Halaman rumah ini luas, banyak sekali kulihat busut –longgok tanah sebagai tempat sarang semut- di antara ilalang Imperata cylindrica yang telah ditinggalkan pemiliknya karena guyuran hujan dan kemudian membuat jejeran menarik menuju tangga rumah panggung itu untuk mencari perlidungan. Di sudut halaman ada beberapa pohon asam Tamarindus indica, yang ukurannya lebih tinggi dari rumah panggung ini. Rumahnya tua, jauh lebih tua dari umur rumah panggung Nenek Dato. Semua dinding rumah terbuat dari seng, warna merah cat seng kusam dan banyak berlubang. Kayu penyangga rumah panggungnya juga banyak dimakan rayap, dan doyong ke arah kiri sehingga nampak tak kokoh.

Daeng Ngangka bergegas naik menuju rumah panggung, dan langsung membuka pintu yang tidak terkunci, aku setia berjalan di belakangnya hingga di dalam rumah. Aku disuruhnya menunggu di ruangan depan sembari ia mengambilkan kursi kayu untukku dari ruangan belakang -yang kucirikan itu adalah dapur, karena ada tungku perapian disana dan perabot masak lain yang telah berpuyan- dan mempersilahkan aku duduk. Di ruangan depan ini hanya ada beberapa foto tua lusuh yang tergantung dan tidak satu set kursi tamu –seperti di rumah kebanyakan -. Rumah panggung ini masih seperti gaya rumah panggung lama, tidak seperti kebanyakan sekarang yang tata letaknya seperti rumah batu modern. Rumahnya tanpa sekat dari ruang tamu hingga dapur, hal yang dapat mencirikan satu ruangan dinamakan ruang tamu, kamar atau dapur adalah dari perabotan yang ada. Itu saja. Sederhana sekali. Dan yang menyulitkan aku mencirikannya adalah perabotan rumah yang kurang.

Aku mendengar suara orang tua terbatuk-batuk dari balik tirai tipis tidak jauh dari ruangan yang kucirikan sebagai dapur. Daeng Ngangka menuju tempat itu, aku mendengarnya bercerita dengan seseorang disana, tak lama Daeng Ngangka keluar dengan orang tua yang kukenali. Yaaa Nenek tua itu. Senang sekali bisa melihatnya dari jarak sedekat ini. Wajahnya sumringah, tersenyum. Jalannya tertatih -mungkin karena penyakit tua dan postur badannya yang besar– ke arahku sambil berusaha menggulung untaian rambutnya yang putih dan tipis. Aku berdiri dan berjalan ke arahnya, tak tega melihatnya berjalan tertatih.

Nenek banyak bertutur tentang dirinya. Sudah hampir 3 tahun nenek sendiri dirumahnya, anak dan kerabat lainnya sesekali saja berkunjung. Untuk urusan makanan tiap harinya, ada keponakan yang tinggal tidak jauh dari rumahnya membawakan sekaligus menemani berbincang beberapa jam. Teduh melihatnya menggerakkan bibir dan melihat mimik mukanya.

Hampir sejam, aku asyik “mengobrol” dengan nenek sementara Daeng Ngangka tertidur pulas di anyaman bambu di sudut ruangan depan ini. Aku mempersilahkan nenek untuk istirahat, karena kondisinya yang sedang tidak sehat dan beranjak ke teras rumah untuk menunggu banjir reda dan Daeng Ngangka bangun. Landskap yang indah, tepat diseberang jalan ada ladang jagung yang hijau kekuningan dan kubangan tempat kerbau-kerbau dimandikan pengembalanya. Ups... muncul juga pelangi nan indah disana. Ehmmm aku jadi sering melihat pelangi semenjak tinggal di Jeneponto. * Tapi aku tak ingin engkau menjadi seperti pelangi itu, indah tapi hanya sesaat.. kok curhat

Akhirnya, setelah dua jam menunggu, banjir agak mereda dan kendaraan dapat melintasi desa. Berpamitan dengan Nenek dan mendapat sesuatu yang istimewa lagi hari ini..

Thursday, July 17, 2008

Jeneponto Hari Ini

.... pelangi

Ada pelangi di sini hun. Indah sekali.. Spektrum cahaya yang luar biasa memikat, salah satu peristiwa di MAKROKOSMOS yang sangat kucintai. Matahari, semua karena bantuannya kan.. Matahari bersinar ke atas titik air hujan yang jatuh sehingga sinar monokromatik menjadi 7 sinar polikromatik.

Pelangi itu indah.. Dan matahari yang menjadikannya indah. I want you be my SUN not my RAINBOW hun..

Posted from Vy's 7610

Tuesday, July 15, 2008

Miss Your Shoulder...

14 juli 2008 - 00.05 am

.....sadness

Terimakasih untuk ada malam ini, terimakasih untuk setiamu mendengarkan gelisah, gundah, dan desahku. Yang dalam menandakan betapa berat saat-saat ini kulewati... Entah apa itu, yang aku tahu hanyalah ini membuatku jatuh tersungkur di "bukau" asing yang jauh sekali hingga aku tak tahu dimana dapat kutemukan jalan pulang.. Engkau yang terbaik untuk saat-saat ini, seorang lelaki dengan label "sahabat baik".

I miss your shoulder to cry on again babee

Wednesday, July 09, 2008

Romantisme bersama Nenek Dato

Jene'ponto - Sabtu 28 Juni 2008

.....gelap

Sudah hampir sebulan, di desaku -Batusaraung, Tamalatea- mendapat giliran pemadaman lampu jika menjelang magrib hingga selepas isya, sekitar jam 8 jadi bisa kurang atau lebih dari 2 jam.

Ditemani telepon genggamku -tampak tua- yang mengalunkan lagu-lagu ebiet g ade -......gemuruh ombak di pantai kuta sejuk lembut angin di bukit kintamani gadis-gadis kecil menjajakan cincin tak mampu mengusir kau yang manis....- juga segelas "black coffee" duduk di teras rumah panggung Nenek Dato - masih kokoh, walau telah berpuluh tahun umurnya -

Angin bermain-main, berlarian di antara daun-daun pohon mangga besar tepat di depan rumah Nenek Dato dan menimbulkan suara indah yang membuatku sangat merindukan pantai, iyaaa pantai.... Membayangkannya membuatku merinding. Aku sangat merindukannya. Really miss that moment.

Bintang-bintang terus bermain mata kepadaku, jumlahnya... entahlah... mungkin ratusan, ribuan, puluhan ribu atau... seperti jumlah rindunya seseorang yang tengah kasmaran dengan kekasihnya. INDAH!

Uhmmmm sejam berlalu... perasaan menjadi "masygul" juga. Entahlah, sendiri membuatku mengingat hal-hal yang seharusnya sejak dulu sudah kulupakan... Perasaan yang mengharimaukan jiwa.. huhhh.... dan mulai merindukan seseorang yang seharusnya tidak di rindukan.

Akhirnya, aku memilih tempat aman... Berbaring di samping Nenek Dato dan menjadi teman bercerita yang menyenangkan -entry MANGKASARA zone- :). Sejak menetap di desa ini -serumah dengan Nenek Dato- kerinduanku untuk mendapat buaian kasih seseorang Nenek terobati sudah. Berpuluh tahun....

Sinar redup lilin, rebah di "anyaman pandan", desir angin, dan suara "merdu" nenek menceritakan masa kecil Ummi dan sosok Almarhum Kakek serta sentuhan jari-jari tua Nenek Dato yang kasap di rambutku, membuatku terbuai, menidurkan segala resah jiwa. ROMANTIC MOMENT....

Saturday, July 05, 2008

- H E -

Pict 1: Pict 2: Pict 3:

Monday, June 02, 2008

Di Angkutan Umum Itu...

Uhhhmp... akhirnya BACK TO THE CITY, Kembali dapat merasakan betapa nikmatnya ber-internet ria, menjelajahi dunia dan kembali bisa berinteraksi dengan kawan-kawan yang nun jauh di sana.

Yang ada untuk mengisi blog ini -yang jarang sekali di update, hanya pada saat aku mendapatkan jaringan internet- adalah tetap cerita keseharian ku di pelosok desa di Kabupaten Jeneponto. Cerita yang setiap harinya berbeda dan menarik. Cerita yang kadang kukemas menjadi oleh-oleh indah untuk Ummi dan Abah, yang membuat Ummi dan Abah tersenyum indah. Sepertinya bukan karena cerita ku, tapi karena caraku beradaptasi terhadap lingkungan baru yang sama sekali berbeda dari kehidupan-kehidupanku sebelumnya. Tapi itu bisa membuat ku bangga pada diriku sendiri, bertambah lagi momen-momen pembuktian diriku pada orang tua kalau anak semata wayang pun bisa menjadi mandiri.

Pekan ini cukup menyenangkan buatku, sekali lagi kudapatkan pengalaman-pengalaman istimewa dari perjalananku. Di pagi itu, masih dengan ojek langganan menuju ke perhentian angkutan umum di jalan poros kabupaten. Cerah sekali, dengan pemandangan khas pedesaan, orang-orang menuju ke ladang, bukan lagi menanam atau memanen padi -karena musimnya sudah lewat- tetapi untuk mengisi ladang mereka dengan memanen jagung di musim kedua ini. Asyik sekali memandangi keserasian alam pagi ini, embun pagi di ilalang yang hijau segar, anak-anak gembala tertawa riang bersama kuda dan kerbau mereka serta senandung indah -lagu mangkasara- dari mulut tukang ojekku... Lengkap sudah pagi ini. INDAH.

Sesampai di perhentian angkutan umum, tak lama aku harus menunggu. Tidak jika matahari akan tenggelam -aku bisa menunggu hampir sejam-, angkutan umum di setiap pagi tak sulit karena akomodasi utama yang digunakan pedagang yang menuju pasar besar Kota Jeneponto di daerah ibukota kabupaten.

Humphhh, angkutan umum yang kunaiki pagi ini luar biasa sesaknya dan aroma yang bercampur aduk. Lengkap macam-macam pedagang di dalamnya. Pedagang sayuran, pedagang beras dan pedagang ikan. Pedagang ikan itu tepat di depanku, dengan tiga keranjang penuh ikan basahnya. Syukurnya aku terlatih untuk mencium bau amis itu sejak kuliah dulu serta cara mengatasi agar tak membuat mual.. Kalau tidak mungkin semua sarapanku pagi ini akan kumuntahkan keluar. Percakapan menarik terjadi diantara pedagang-pedagang itu, mulai dari persoalan pribadi, kenaikan BBM, harga bahan-bahan pokok di pasar serta kompetisi pencarian bintang dangdut baru KDI. Emosi dan kepolosan bercerita serta penggunaan bahasa mangkasara –yang kadang-kadang terlalu kasar kedengarannya- membuat ekspresi mereka ISTIMEWA buatku.

Tiba-tiba Ibu pedagang ikan menegur dan menanyakan tempat tinggal ku, saatnya kupergunakan bahasa mangkasaraku yang masih dalam taraf belajar ini. Percakapan selanjutnya adalah tentang silsilah keluarga –salah satu kebiasaan orang makassar yang mungkin di beberapa daerah lain juga seperti itu, alasan utamanya yaitu untuk mengetahui apakah termasuk anggota keluarga atau tidak- akhirnya membawa percakapn jadi “nyambung banget”. Ternyata walau hubungan kekerabatan yang sudah sangat jauh, tapi bagi orang-orang di daerahku “berarti” sekali. Sesaat sebelum aku sampai di tempat perhentianku –menuju kantor- Ibu pedagang ikan mengambil kantong plastik ukuran besar dan memenuhinya dengan ikan segera diberikannya kepadaku. RAMAH SEKALI. Tapi masalahnya adalah aku sedang dalam perjalanan menuju kantor dan bukan perjalanan pulang dari kantor. Jadilah hari itu aku membawa sekantong ikan ke kantor sampai jam pulang. Hehe pengalaman luar biasa lagi kudapatkan dan menjadi koleksi bunga-bunga hidupku.

Wednesday, May 07, 2008

- S H E -

Pict 1: Pict 2:

Monday, April 28, 2008

Capture Of Me

Posting kali ini agak sedikit "narsis"... tapi yang Vy suka adalah momen nya. But Sometimes i have to publicate my self, right? Gak tau, akhir-akhir ini Vy lebih suka mengedit foto dengan themes "oldies" like sephia tone dengan sharpen tinggi... I really like the tone...

Pict 1:Pict 2:

Nice Weekend

Akhir Pekan Sabtu – Minggu.
12 - 13April 2008

Selepas subuh –Sabtu- seperti biasa aku asyik menikmati "Black Coffea" hangat di teras rumah panggung Nenek Dato –rutinitas yang selalu kulakukan di tiap akhir pekan jika menetap di sini dan tidak ke kota Makassar-. Duri-duri dari dingin pagi itu menusuk hingga ke tulang, menggigit -selalu seperti itu di tiap musim pancaroba, dinginnya luar biasa kata Nenek Dato-. Tapi pemandangan aktifitas pagi hari di pelosok desa -Jeneponto- ini terlalu menarik untuk dilewati. Apalagi pada hari pasar seperti ini dan musim panen Jagung dan Padi. Aktifitas masyarakat yang akan pergi ke pasar atau untuk pergi ke ladang dan sawah di pagi buta ini.

Bulu kudukku tiba-tiba merinding –bukan karena dingin tadi- tapi karena pemandangan yang tiba-tiba tersaji di hadapanku. Satu keluarga petani –lengkap- dengan peralatan bertani dan rantang makanan yang tampak usang –yang di dalamnya terdapat bekal makanan-. Sang ayah memimpin ekspedisi sambil menuntun 2 kuda di belakangnya, Ibu menggendong anak paling bungsu –perkiraanku sekitar 4 tahun-, dan dua kakak si bungsu di belakangnya, keduanya mendapat tugas membawa rantang usang itu dan ember besar berisi air minum. Samar-samar aku mendengar pembicaraan mereka tentang pengalaman sang Ayah kemudian diikuti tawa anggota keluarganya. MESRA sekali. Sekali lagi aku merinding, senyum lebarku tak tahan untuk terus di kulum dan perasaan iriku tak terbendung... Ehmmm... Lagi, aku mendapatkan momen indah.

Nenek Dato datang dan duduk tepat disampingku dengan segelas teh ditangannya. Pembicaraan dalam bahasa “Mangkasara” pun terjadi –lagi, kebisaanku bahasa Mangkasara di latih he2-. Nenek dato berbicara panjang lebar tentang adat istiadat dan akhirnya tentang berapa luas sawah yang Nenek Dato miliki. Diterangkan begitu jelas dimana lokasinya kepadaku, humph... entah untuk apa, tapi sedikit membantuku mengurangi kebutaanku soal lokasi-lokasi kampung di pelosok Jeneponto ini.

Ajakan menarik datang dari Nenek Dato. Karena padi Nenek Dato juga telah memasuki masa panennya, aku diajak untuk jalan-jalan ke sawah dan melihat proses panen itu. Tawaran yang sangat sayang untuk dilewati. Aku sudah sering melihatnya di televisi atau di buku-buku cerita anak-anak tentang “memanen padi” tapi untuk melihat langsung dan mencoba sama sekali pemgalaman baru. Kata Nenek Dato aku "WAJIB" memakai baju lengan panjang, kaus kaki, penutup mulut agar nanti tidak di serang gatal-gatal karena terkena gabah padi atau digigit binatang-binatang kecil yang gatal.


Tak butuh waktu lama untuk bersiap-siap diri, juga tak butuh mandi pagi dulu sebelum pergi ke sawah, toh akan kotor juga setelahnya... Sepanjang perjalanan menuju sawah Nenek Dato, aku melewati banyak sawah yang juga telah tiba masa panennya. Aku bertemu dengan keluarga –lengkap- tadi sedang mengerjakan salah satu sawah Nenek Dato. Mereka adalah keluarga yang dipercayakan untuk mengurus sawah Nenek Dato dengan sistem bagi hasil. Banyak juga keluarga lain yang mengerjakan sawah di sebelah Nenek Dato, rata-rata mereka adalah keluarga yang tinggal sekampung denganku jadi tawaran untuk singgah dan menyantap makan siang di sawah dengan lauk dan sayur "fresh" di masak di sawah sahut menyahut... Ehmmm gawat juga, kalau tawaran semuanya diladeni badan ku yang sebelumnya sudah "bengkak" tampaknya akan menjadi tambah "bengkak" he2... Dengan sopan -seperti ajaran Nenek Dato- aku selalu berkata "Terimakasih Karaeng" -kata penolakan yang paling sopan-.

Sesampai di sawah, bekal "sabit" yang diberikan Nenek Dato langsung aku gunakan untuk belajar mengait padi -dengan arahan sepupu- yang menguning. Tidak susah, tapi harus tetap hati-hati jangan sampai sabit yang tajam itu sampai mengenai tangan, bisa terputus katanya. Sekali dan dua kali masih terlalu kaku tapi setelahnya semuanya jadi lancar.... Beres! Nenek Dato yang sedang mengamati duduk di bawah pohon asam tertawa terbahak-bahak melihat kekakuanku. Nenek Dato di usianya sudah tidak mungkin untuk terjun langsung memanen padi, jadi menyerahkan segala urusan persawahan kepada orang yang telah dipercaya.

Waktu yang biasa di habiskan untuk memanen padi di satu sawah adalah dua hari. Hari pertama digunakan untuk mengait batang-batang padi, dan hari kedua untuk memisahkan butir-butir padi (gabah) dari tangkainya. Dua hari juga aku ikut dengan Nenek Dato ke sawahnya. Humphhh... ku hitung hanya sekitar 8 jam dalam 2 hari yang kuhabiskan untuk sekedar belajar semuanya, tapi rasanya ingin remuk saja semua badanku. Bisa kubayangkan mereka yang menghabiskan 10 jam sehari dalam seminggu atau satu bulan... Menurutku itulah hidup, terus berjuang untuk sesuatu yang lebih baik.


Lagi, selalu ada momen-momen indah untuk ku “CAPTURE”. Indah, entahlah apakah indah juga dari sisi “FOTOGRAFI”.
Pict 1. Pict 2.Pict 3.

Sunday, April 06, 2008

Di Ladang Jagung...

Kamis, 27 Maret 2008...

Hari ini tak ada niat untuk ke kantor. Ehmm sudah di niatkan sih dari hari sebelumnya, karena ada tawaran menarik dari tante untuk jalan-jalan ke ladang jagungnya karena sudah tiba masa panennya. Kesempatan baik untuk memvariasikan rutinas -perjalanan 30 km pulang pergi rumah dan kantor- . Alasan lainnya yaitu aku ingin sekali mendapatkan pemandangan pegunungan dengan hijau terhampar sekaligus "hunting foto", rasanya lama sekali tidak menjalankan hobi satu ku ini. Sekarang, rasanya tak ada yang indah dari hasil "jepretanku", HERAN! Apa karena sudah terlalu lama tidak melakukan aktifitas ini.

Pagi sekali, tepat setelah selesai melakukan sholat Subuh segala persiapan telah dilakukan tante untuk menuju ke ladang. Semua yang menyangkut perut harus utama bukan? he2. Aku, menyiapkan teh hangat untuk kubawa, dua bungkus kopi instant, buku bacaan, dan kamera pocket ku.. Lengkap! Setelahnya tinggal menyiapkan tenaga menuju ladang yang di atas bukit kurang lebih 6 km.

Pengalaman menarik buatku, belajar memanen jagung. Berjalan di tengah-tengah pohon jagung mengambil tongkol jagung ditengah rerumputan yang tingginya melebihi manusia bukan hal yang gampang. Resikonya, ya bertemu dengan makhluk-makhluk aneh, gatal-gatal diseluruh badan karena bulu-bulu halus jagung kuning, dan hitam karena begitu panasnya matahari menyengat kulit. Menyenangkan sekali untuk aku, yang ini adalah pengalaman pertama. Pelajaran selanjutnya adalah mengupas kulit jagung dan memipil bijinya. Mudah memang, tapi hasil yang di dapat setelahnya adalah pegal luar biasa di jari-jari tangan dan itu terjadi padaku. Jaminan 48 jam, sakitnya tak hilang. He2.

Aku sering sekali mendengar cerita dari Ummi, Abah atau dari sepupu-sepupu ku kalau menikmati makan siang di ladang atau sawah adalah hal yang luar biasa nikmatnya. Apapun lauknya semua terasa nikmat. Itu yang aku buktikan di perjalananku ini. Hasilnya, ehmm memang nikmat luar biasa, walaupun hanya dengan lauk ikan bandeng kuah santan dan ikan goreng serta sayung kacang hijau dicampur daun kelor segar yang langsung diambil dari ladang. Benar, jauh melewati nikmatnya makanan mahal. Ditambah dengan suasana pedesaan, pemandangan hijau ladang dan persawahan dan duduk di bale-bale, tepat di tengah ladang jagung. Ahhhhh suangguh luar biasa.

Pict 1:
Pict 2:Pict 3:
Pict 4:Pict 5:
Pict 6:Waktu tak terasa terus berjalan, dihabiskan di tengah ladang jagung. Berkumpul bersama sepupu, tante dan om dan candaan menarik. Hampir magrib, aku dan yang lainnya meninggalkan ladang jagung itu. Kembali ke rutinitasku...