Friday, December 08, 2006

" Bawah Tanah "

Dahulu, orang tidak mengenal kelas-kelas, semuanya sama. Namun, kerena adanya sekelompok orang yang merasa dirinya lebih segala-galanya dibanding yang lain, maka terbagilah menjadi golongan kaya dan miskin atau borjuis dan proletar, biasa juga disebut diatas tanah dan bawah tanah.

Waktu kecil, kupikir bawah tanah adalah orang-orang yang tinggal di bawah tanah dan semua aktivitas kehidupannya dilakukan dibawah tanah, tempat dimana aku menginjakkan kaki. Ternyata bawah tanah adalah suatu kehidupan yang apa adanya, tidak ingin terekspos dengan ‘dunia luar’, tidak ingin menjadi komersil akibat eksploitasi para pemilik modal. Orang-orang yang kehidupannya statis, tidak mau terburu oleh mode pakaian dan gaya rambut.

Kaum bawah tanah pun yang dikenal dengan kaum perlawanan (Punk, skin, oi dll) dalam kesehariannya membutuhkan hiburan sebagai variasi kehidupannya, seperti kaum atas tanah yang terlebih dahulu melakukannya. Kaum atas tanah masuk ke diskotik, bar , mabuk-mabukan, ‘bermain-main’ dengan wanita dan semua sarana hiburan yang mereka pikir bisa membantu untuk melupakan hal yang menggelayut dalam pikiran atau hanya sejenak untuk bersenang-senang. Tapi kaum bawah tanah pun tak ketinggalan, mereka pun membuat hiburan versi mereka.

Datang ke sebuah konser yang bersuara keras dan kadang tak jelas, dengan dandanan yang sesuai dengan ekspresi hati, pokoknya bergaya sesuka hati, kadang pun mereka bergaya persis sama dengan dibelahan bumi lain yang bernasib sama (boots, pearcing, mohawk etc.). Seperti juga kaum atas tanah, mereka melakukan hal yang sama sebagai hiburan dengan tujuan yang sama, yang membedakan hanya tempat dan biaya masuk. Namun, keduanya memiliki persamaan yang tidak beda nyata.

Lama kupikirkan, apa bedanya para punkers yang berdandan aneh, muzink, dancing dan apalah namanya, ekspresi mereka ketika mendengarkan musik yang disukainnya atau paling tidak band yang memainkannya ia sukai, dengan para diskotikers (entah apalah sebutan yang tepat untuk mereka, lupa ka) yang bergoyang mengikuti racikan musik yang dimainkan oleh disk jockey (DJ), pertanyaan itulah yang ku lontarkan pada temanku, dan dengan mudahnya ia mengatakan sama saja (sama ji). Pikirku mereka (kaum bawah tanah) tidak senang dengan demikian, karena itu hanya menghamburkan uang saja, untuk hidup aja sulit apa lagi untuk bersenang-senang. Tapi rupanya, pemerhati golongan ini, tidak hanya dari kalangan kelas bawah, tapi juga kelas atas yang jenuh dengan kehidupannya, mereka ingin mencari sesuatu yang beda. Bahkan pada tahun 1997-2000, golongan ini masih eksis dan boming hingga mempengaruhi anak-anak SD. Namun terlibas lagi oleh zaman, dan kembali boming pada awal 2005. namun telah ‘digandeng’ oleh para kapital, yang meksploitasi fashion dan musik, kembali menyihir orang bergaya dan mempunyai musik demikian. Dan tahun awal tahun 2006, kembali redup dan digantikan dengan house musik dan DJ. Namun kaum bawah tanah tetap aja jalan, gak peduli “besok akan turun hujan atau kembali cerah”.

Oleh : Ade Yamindago
A best friend yang selalu datang dan pergi....

****************************************
Vy say:

The punkers... Ehmmmm now all just for style... Dulu bolehlah kita katakan bahwa kaum bawah tanah itu berusaha melawan pemilik modal... At the time! Hanya segelintir saja... Bullshit!!!! Anak-anak yang di mall allah gaya doank! Malah seperti gaya adalah segala-galanya... Tuk melawan pemilik modal? Gak!! Malah berteman akrab dengan pemilik modal... Go To Hell !!!

1 comment:

Backpacking Ben said...

Hello mmate great blog